Entertainment

Headlines News :

Advertise

Welcome Guys

    Title 1

    Slider Bar

    Recent News

    Tampilkan postingan dengan label Kristiani. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Kristiani. Tampilkan semua postingan

    Santo Nicholas - Legenda Sinterklas

    Santo Nicholas lahir di Patara , Lycia et Pamfilia , Turki pada tanggal 15 Maret 270. Dia terkenal karena pengorbanannya bagi semua umat, yang kelak dikenal sebagai Nikolaos The Wonderworker.
     

    Dia mempunyai rahasia yaitu rahasia pemberian hadiah, seperti meletakkan koin dalam sepatu orang-orang yang meninggalkan sepatu mereka diluar, memanjat cerobong asap dan memberikan bantuan makanan dan pakaian, maka dengan demikian, ia menjadi model untuk Santa Claus. Hari raya Santo Nicholas dirayakan pada tanggal 6 Desember. 

    Saint Nicholas adalah santo pelindung para pelaut, pedagang, pahlawan , pencuri, anak , pemukut cukai dan mahasiswa di berbagai kota dan negara di seluruh Eropa. Dia juga pelindung Varangian Guard para kaisar Bizantium , yang melindungi peninggalan di Bari.

    Di kalangan Gereja Timur, ia dihormati sebagai pelindung para pelaut; sedangkan di Gereja Barat, ia dihormati sebagai pelindung anak-anak, dan pembantu para gadis miskin yang tidak mampu menyelenggarakan perkawinannya. Namun riwayat hidupnya tidak banyak diketahui, selain bahwa ia dipilih menjadi Uskup kota Myra pada abad keempat yang berkedudukan di Lycia. Ia seorang uskup yang lugu, penuh semangat dan gigih membela orang-orang yang tertindas dan para fakir miskin.

    Pada masa penganiayaan dan penyebaran ajaran-ajaran sesat, ia menguatkan iman umatnya dan melindungi mereka dari pengaruh ajaran-ajaran sesat. Ketenaran namanya sebagai uskup melahirkan berbagai cerita sanjungan. Sangat banyak cerita yang menarik dan mengharukan.

    Ia adalah putra tunggal dari orang tua Kristen yang kaya bernama Epifanius dan Johanna. 

    Dia sangat religius meskipun masih kecil, dan menurut legenda, Nicholas dikatakan telah ketat melakukan puasa kanonik Rabu dan Jumat. Orangtua kaya itu meninggal karena epidemi sementara Nicholas masih muda dan dia kemudian diasuh oleh pamannya-juga bernama Nicholas-yang adalah uskup dari Patara. Dia mengajarkan Nicholas muda membaca dan kemudian mentahbiskan Nicholas sebagai imam. 

    Pada 325, ia adalah salah satu dari banyak uskup yang menjawab permintaan Constantine dan muncul di Konsili Nicea . Ada cerita, bahwa Nicolas adalah pengikut setia anti- Arian dan pembela posisi Kristen Ortodoks, dan salah satu uskup yang menandatangani Pengakuan Iman Nicea .  

    Gereja legenda menyatakan bahwa selama proses di Nicea, Nicolas menjadi sangat marah pada posisi Arius yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah makhluk ciptaan, dan tidak sepenuhnya Allah. Maka ia pun berjalan ke Arius dan menampar wajahnya. 

    Santo Nicholas meninggal pada tanggal 6 Desember 340. Menurut legenda setempat, beberapa jenazahnya dibawa oleh tiga peziarah ke sebuah gereja di tempat yang sekarang dinamai Nikolausberg sesuai dengan namanya menurut orang Jerman.
     
    Dikatakan bahwa di Myra terdapat peninggalan Saint Nicholas dimana setiap tahun memancarkan cairan yang encer yang jelas yang berbau seperti air mawar, yang disebut manna (atau mur ), yang diyakini oleh umat beriman memiliki keajaiban kekuasaan.  

    Setelah peninggalan dibawa ke Bari , mereka terus melakukannya, banyak sukacita dari pemilik baru. Botol mur dari relik itu telah diambil di seluruh dunia selama berabad-abad, dan masih dapat diperoleh dari gerejanya di Bari. Bahkan sampai hari ini, sebotol manna diekstrak dari makam Saint Nicholas setiap tahun pada 6 Desember oleh para ulama dari basilika. Mur dikumpulkan dalam sarkofagus yang terletak di kubah Basilika dan dapat diperoleh di toko di dekatnya.  

    Cairan tersebut secara bertahap merembes keluar dari kubur, tetapi tidak jelas apakah itu berasal dari tubuh dalam kubur, atau dari marmer itu sendiri, karena kota Bari adalah pelabuhan, dan makam berada di bawah permukaan laut , ada beberapa penjelasan secara alami mengenai cairan manna, termasuk pengalihan air laut ke makam oleh gaya kapiler.


    Pada tahun 1993 sebuah kuburan ditemukan di pulau Turki kecil Gemile , sebelah timur dari Rhodes , yang sejarawan percaya adalah makam Saint Nicholas. 





    Cerita
    Legenda lain  menceritakan bagaimana kelaparan yang parah melanda sebuah pulau. Saint Nicholas, mengunjungi wilayah untuk merawat yang lapar, tidak hanya melihat kejahatan yang mengerikan tetapi ia juga membangkitkan tiga anak laki-laki dengan doa-doanya.  

    Salah satu versi mengatakan bahwa dia bisanya melemparkan satu tas selama tiga malam berturut-turut. Dia melempar dompet selama tiga tahun, setiap malam sebelum salah satu dari anak-anak perempuan  lahir. Selalu, setiap kali sang ayah dari anak perempuan menunggu, mencoba untuk menemukan identitas sang dermawan.

    Selama bencana kelaparan besar yang terjadi di Myra pada tahun 311-312, sebuah kapal berada di pelabuhan , yang penuh dengan gandum untuk Kaisar di Konstantinopel. Nicholas mengundang para pelaut untuk membongkar bagian dari gandum untuk membantu warga sekitar yang sedang kelaparan.  

    Para pelaut pada awalnya tidak menyukai permintaan, karena gandum harus ditimbang secara akurat dan harus diberi kepada Kaisar. Tetapi ketika Nicholas berjanji kepada mereka bahwa mereka tidak akan menderita kerugian karena kekurangan gandum, para pelaut setuju.  Akhirnya para pelaut meninggalkan hampir sebagian di daerah itu.

    Ketika mereka tiba kemudian di ibukota untuk menyerahkan gandum tersebut kepada kaisar, mereka sangat terkejut:. Berat beban tidak berubah, meskipun gandum telah diberi di Myra yang sudah cukup untuk dua tahun penuh dan bahkan bisa digunakan untuk disemai.

    Legenda Sinterklas 
    St Nicholas membuat terobosan pertama ke dalam budaya populer Amerika menjelang akhir abad ke-18. Pada bulan Desember 1773, dan juga pada tahun 1774, sebuah surat kabar New York melaporkan bahwa kelompok-kelompok keluarga Belanda telah berkumpul untuk menghormati ulang tahun kematiannya.

    Nama Sinterklas (Santa Claus) berevolusi dari julukan Belanda Nick, Sinter Klaas, bentuk singkat dari Sint Nikolaas (Belanda untuk Saint Nicholas). Pada tahun 1804, John Pintard, anggota Society New York Historical, didistribusikan ukiran kayu dari St Nicholas pada pertemuan tahunan masyarakat. Latar belakang berisi ukiran yang kini akrab gambar Santa termasuk stoking penuh dengan mainan dan buah menggantung di atas perapian. Pada tahun 1809, Washington Irving membantu mempopulerkan cerita Sinter Klaas ketika ia disebut St Nikolas sebagai santo pelindung dari New York dalam bukunya, The History of New York. 


     Sinter Klaas digambarkan sebagai segala sesuatu dari "rascal" dengan topi tiga terpojok biru, rompi merah, dan stoking kuning untuk seorang pria yang mengenakan topi bertepi lebar dan "sepasang batang besar selang Flemish." 

    Sumber, en.wikipedia.org
                 nicholasadityas.blogspot.com 
                 nukay81.blogspot.com 

    Franciscus Seda - A man for all seasons!

    Franciscus Xaverius Seda (lahir di Flores, Nusa Tenggara Timur, 4 Oktober 1926 – meninggal di Jakarta, 31 Desember 2009 pada umur 83 tahun) adalah seorang politikus, menteri, tokoh gereja, pengamat politik, dan pengusaha Indonesia.

    “A man for all seasons!”
    Sebuah julukan yang diberikan seorang wartawan ternama Indonesia kepada Frans Seda dalam salah satu tulisan menyambut ulang tahun tokoh tiga zaman ini yang ke-80 pada tahun 2006 yang lalu. Julukan itu tentu berdasarkan pantauan sang penulis yang kerap melihat jejak keterlibatan Frans Seda dalam sejarah perjuangan dan pembangunan bangsa Indonesia.

    Saat masih muda, beliau sudah bergabung dengan Laskar KRIS (Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi) dan anggota Batalyon Paraja/Lasykar Rakyat GRISK/TNI Masyarakat (1945-1950) untuk berjuang melawan Belanda.  Di dunia organisasi pemuda, Frans Seda sempat menjadi Ketua Pemuda Indonesia di Surabaya; anggota Panitia Pembubaran Negara Jawa Timur dan DPR Sementara Daerah Jawa Timur (RI) mewakili Pemuda; anggota Panitia Kongres Pemuda di Surabaya; anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda; serta pendiri/pengurus Ikatan Mahasiswa Katolik Indonesia (IMKI) di Belanda (1950-1956). Sepulang dari meraih gelar Doctorandus bidang Ekonomi di Tilburg, Belanda, karirnya segera melesat dalam dunia politik, pemerintahan, maupun dalam pengabdiannya kepada Gereja. Keaktifannya di Partai Katolik mengantarkannya pada jabatan Wakil Ketua dan kemudian menjadi Ketua Umum Partai Katolik. Pada tahun 1960, Frans Seda masuk Parlemen sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mewakili Golongan Katolik. Ketika terjadi gejolak antara Indonesia dan Kerajaan Belanda dalam kaitannya dengan persoalan Irian Barat, beliau amat piawai untuk berdiplomasi. Hal inilah yang membuat Parlemen Belanda yang saat itu dikuasai Partai Katolik Belanda (KVP) menerima Bunker Plan yang berujung pada masuknya Irian Barat ke Republik Indonesia.

    Selain menjadi Menteri Perkebunan (1964-1966) pada usia 38 tahun dan kemudian menjadi Menteri Pertanian (1966) pada situasi Negara yang memanas, tidak boleh dilupakan pula bahwa beliau menjadi Menteri Keuangan (1966-1968) dalam keadaan keuangan Republik Indonesia di awal Orde Baru yang sangat tidak baik. Prestasi Frans Seda yang layak diapresiasi pada masa ini adalah bahwa Frans Seda mampu membawa ekonomi Indonesia ke arah yang lebih stabil setelah didera inflasi hingga 650%, mengarahkan Indonesia kembali dalam pergaulan masyarakat internasional, menerapkan kesatuan penganggaran Pemerintah pada Kementerian Keuangan serta menerapkan model anggaran penerimaan dan belanja yang berimbang; dua hal penting yang hingga kini masih diterapkan dalam dunia keuangan Indonesia. Inilah yang menurut pendapat Emil Salim, salah satu sahabat dekatnya adalah tidak berlebihan apabila kita menyebutnya sebagai Pahlawan Keuangan Indonesia. Banyak hal pula yang dilakukannya ketika menjadi Menteri Perhubungan, Telekomunikasi, dan Pariwisata (1968-1973), seperti merintis penerbangan dan pelayaran perintis di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian Timur, merintis penggunaan satelit telekomunikasi Palapa, serta beberapa kawasan wisata unggulan seperti di Nusa Dua, Bali. Sesudahnya Frans Seda kemudian mendapatkan sederet jabatan di berbagai bidang, seperti: Duta Besar Republik Indonesia di Brussels untuk Masyarakat Ekonomi Eropa, Kerajaan Belgia dan Luxembourg (1973-1976); anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia (1978-1983), hingga menjadi penasihat Presiden.

    Beliau juga seorang pendidik yang ingin mendidik insan-insan Indonesia menjadi pemikir bukan hanya praktisi tanpa dasar pemikiran. Warisannya yang nyata di dunia pendidikan adalah Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Unika Atma Jaya) dan PPM (Pembinaan dan Pendidikan Manajemen). Unika Atma Jaya didirikannya bersama rekan-rekannya dari IMKI dan PMKRI pada 1 Juni 1960 dengan modal hanya Rp 500,- (lima ratus rupiah). Kiprahnya di Unika Atma Jaya diawali dengan menjadi Dekan pertama Fakultas Ekonomi sekaligus menjadi Rektor yang pertama kali, selanjutnya sebagai Ketua Umum Yayasan Atma Jaya selama beberapa periode, Ketua Kehormatan Yayasan Atma Jaya, dan bahkan pada saat Frans Seda meninggal pada akhir tahun 2009, beliau masih tercatat sebagai Ketua Pembina Yayasan Atma Jaya.

    Frans Seda sungguh-sungguh mengamini tekadnya mengabdi Tanah Air sebagai jembatan mengabdi kepada Tuhan dalam karya-karya yang nyata di berbagai bidang. Dengan caranya Frans Seda tidak hanya ikut menanam, tetapi juga membantu menumbuhkan dan mengembangkan keindonesiaan melalui karya dan pergaulannya.



    RIWAYAT HIDUP FRANS SEDA



    Nama Lengkap              : Fransiskus Xaverius Seda

    Tempat & Tgl. Lahir       Maumere, FloresNTT. 4 Oktober 1926

    Nama Lengkap              : Fransiskus Xaverius Seda

    Tempat & Tgl. Lahir       : Maumere, Flores, NTT. 4 Oktober 1926

    Agama                          : Katolik-Roma

    Pendidikan                    : Fakultas Ekonomi, The Catholic University in Tilburg (Netherlands), 1956.





    A.    Dalam Pemerintahan/Lembaga Tinggi Negara:

    Pemerintahan Presiden Soekarno:

    1964 – 1966      : Menteri Perkebunan

    1966                 : Menteri Pertanian



    Pemerintahan Presiden Soeharto:

    1966 – 1968      : Menteri Keuangan

    1968 – 1973      : Menteri Perhubungan, Telekomunikasi & Pariwisata

    1973 – 1976      : Duta Besar RI di Brussels untuk Masyarakat Ekonomi  Eropa, Kerajaan Belgia dan   Luxemburg.

    1976 – 1978      : Anggota Dewan Pertimbangan Agung RI.

    1996            : Anggota Dewan Penasehat Dewan Pengembangan  Kawasan Timur Indonesia (DP-KTI) dibawah pimpinan Presiden Soeharto kemudian dilanjutkan oleh Presiden BJ Habibie.

    1998                      : Penasehat Presiden BJ Habibie/Pemerintah RI untuk Bidang Ekonomi.

    1999             : Penasehat Megawati Soekarnoputri sebagai Wakil Presiden dan kemudian sebagai    Presiden RI.



    B.    Dalam Dunia Politik:

    1956 – 1968      : Wakil Ketua, kemudian menjadi Ketua Umum Partai Katolik.

    1960 – 1964     : Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong  (DPRGR) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), mewakili Golongan Katolik.

    Sejak 1971        : Anggota Dewan Penasehat Partai Demokrasi Indonesia (PDI), kemudian menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

    1997                                 : Anggota Dewan Petimbangan Pusat / DEPERPU PDI - Perjuangan.



    C.    Dalam Dunia Usaha:

    *         Ketua Karwell Group (Pabrik Tekstil untuk Ekspor).

    *         Presiden Komisaris PT Kompas Media Nusantara (Harian Kompas).

    *         Presiden Komisaris Percetakan dan Penerbitan Gramedia.

    *         Presiden Komisaris PT Bank Shinta Indonesia.

    *         Presiden Komisaris PT Pantara Wisata Jaya (kerja sama dengan Japan Airlines dalam bidang Promosi Pariwisata).

    *         Presiden Komisaris PT Saowisata Seaside & Diving Resort.

    *         Presiden Komisaris PT Hindoli  (kerja sama antara PT Gowa Manurung Jaya & perusahaan Amerika PT Cargill dalam Perkebunan Kelapa Sawit, Sumatera Selatan).

    *         Anggota Dewan Komisaris PT Bayer Indonesia.

    *         Presiden Komisaris PT Philips Indonesia.

    *         Presiden Komisaris PT BritishAmerican Tobacco (PT B.A.T.).

    *         Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).

    *         Ketua PT Sumberdaya Internusa – Consultant.

    *         Ketua Asosiasi Indonesia – Netherland (INA).

    *         Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI).

    *         Ketua Joint Policy Committee/Memorandum of Understanding antara Kawasan Timur Indonesia dan Northern Territory – Australia.

    *         Kepala Perwakilan Pemerintah Northern Territory-Australia di Indonesia.

    *         Anggota Dewan Penyantun Pusat Kajian Australia – Universitas Indonesia (PKA-UI).

    *         Ketua Forum Indonesia-Nederland (FINED).



    D.    Dalam Dunia Pendidikan dan Kegiatan Lain:

    1960                : Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Atma Jaya/Pendiri Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, dewasa ini menjadi Ketua Pembina Yayasan Atma Jaya.

    1961 – 1964      : Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.



    *) Penasehat Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK).

    *) Ketua Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (PPM).

    *) Ketua Bidang Dana Komite Olahraga Nasional Indonesia.

    *) Anggota Dewan Harian Nasional Angkatan 45, Ketua Bidang Ekubang.

    *) Anggota Komisi Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian (Iustitia et Pax) di Roma/Vatican.

    *) Anggota Dewan Pertimbangan Palang Merah Indonesia Pusat.



    E.    Bintang-Bintang Kehormatan:

    1.     Grandcross of St. Silvester – 1964, dari Paus Paulus VI di Vatican.

    2.     Grandcross in de Orde van Oranje Nassau dari Kerajaan Belanda.

    3.     Grandcross de L’Ordre Royal du Saha Metrei – 1968, dari (bekas) Kerajaan Kamboja.

    4.   Commander in the Order of Maritime Merit dari State California (USA) dan San Fransisco Port Authority – 6 September 1968, Gubernur Ronald Reagan.

    5.     Grandcross de L’Ordre de Leopold II – 4 Juni 1970, Kerajaan Belgia.

    6.     Grandcross of St. Thomas University – 1972, Filipina.

    7.     Bintang Mahaputra Adipradana II – 10 Maret 1973, Republik Indonesia.

    8.     Honorary Member of The Order of The Australia (in Recognition for Service to the Development of Trade Links Between Australian and Indonesia) – Agustus 1999, Pemerintah Australia

    Sumber, Wikipedia
                  franssedaaward.atmajaya.ac.id

    Faust vrancic - Pencipta Parasut

    Faust vrancic lahir pada 17 januari 1551 di Kroasia. Orang Eropa menyebutnya Faust Veranzio , sedangkan warga di tempat kelahirannya menyebutnya homo Volans atau manusia terbang. Faust yang adalah ahli matematika dan juga sebagai seorang Uskup menemukan parasut pada tahun 1617.

    Fausto lahir di Sebenico di Kroasia keluarga bangsawan dari jumlah Veranzio (cabang yang kemudian bergabung dengan keluarga Draganić, menciptakan Hitungan Draganić-Veranzio), sebuah keluarga terkenal dari penulis.

    Dia adalah anak dari Michele Veranzio, seorang penyair Latin, dan kemenakan Antonio ( Kroasia : Antun Vrancic), Uskup Agung Esztergom (1504-1573), seorang diplomat dan pegawai negeri, yang berhubungan dengan Erasmus ( 1465-1536), Philipp Melanchthon (1497-1560), dan Nikola Subic Zrinski (1508-1566), yang mengambil Fausto dengan dia selama beberapa palung perjalanannya Hungaria dan Republik Venesia. ibu Fausto adalah dari Berislavić keluarga. Saudaranya, Giovanni, meninggal masih muda dalam pertempuran.

    Sementara tempat tinggal utama keluarga berada di kota Šibenik , mereka memiliki sebuah rumah musim panas yang besar di pulau Prvić , dalam Šepurine tempat, tempat tetangga untuk Prvić Luka (di mana ia dimakamkan di gereja lokal). Benteng barok yang digunakan oleh keluarga Vrancic sebagai tempat tinggal musim panas sekarang dalam kepemilikan keluarga Draganić.

    Sebagai seorang pemuda, Veranzio adalah tertarik pada ilmu pengetahuan. Masih anak-anak, ia pindah ke Venesia , di mana dia menghadiri sekolah, dan kemudian ke Padua untuk bergabung dengan Universitas , di mana ia berfokus pada hukum , fisika , teknik dan mekanik .

    Di istana Raja Rudolf II , dalam Hradcany Castle di Praha, Veranzio adalah rektor untuk Hungaria dan Transylvania sering bersentuhan dengan Johannes Kepler dan Tycho Brahe . Setelah kematian istrinya, Veranzio berangkat ke Hungaria. Pada 1598, ia mendapat gelar Csanadiensis episcopus di partibus (bahkan jika ia tidak pernah menginjakkan kaki di Csanád). Pada 1609, kembali di Venice, ia bergabung dengan persaudaraan Santo Paulus dari Tarsus ( barnabites ) dan dirinya berkomitmen untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Veranzio meninggal tahun 1617 di Venice dan dimakamkan di Dalmatia, dekat Countryhouse keluarganya.

    Salah satu ilustrasi dalam Machinae Novae adalah sketsa parasut dijuluki Homo Volans ("Manusia Terbang"). Setelah diperiksa Leonardo da Vinci 's kasar sketsa dari parasut , Veranzio dirancang parasut sendiri. Paolo Guidotti (sekitar 1590) sudah berusaha untuk melaksanakan teori Da Vinci, berakhir dengan jatuh di atap rumah dan patah tulang pahanya, tetapi sementara Francis Godwin menulis roman terbangnya Man ​​di Moone , Fausto Veranzio secara luas diyakini telah melakukan percobaan parasut melompat untuk nyata dan, karena itu, untuk menjadi orang pertama yang membangun dan menguji parasut: menurut cerita diteruskan, Veranzio, tahun 1617, sekarang lebih dari enam puluh lima tahun, dilaksanakan desain dan diuji parasut dengan melompat dari Campanile St Markus di Venesia. Hal ini umumnya menambahkan bahwa acara ini didokumentasikan sekitar 30 tahun kemudian dalam sebuah buku Magick Matematika atau, Keajaiban yang dapat Dilakukan oleh Geometri Mesin (London, 1648) yang ditulis oleh John Wilkins , sekretaris dari Royal Society di London.

    Namun, John Wilkins, dalam Magick Matematika, menulis tentang terbang dan tentang persuasi bahwa terbang akan mungkin. Orang melompat dari menara tinggi dan metode memperlambat kejatuhan mereka tidak kepeduliannya. Risalah-Nya bahkan tidak menyebutkan nama Fausto Veranzio juga tidak mendokumentasikan setiap melompat dengan parasut atau acara sama sekali dalam 1617.

    Selain itu, cerita tentang lompatan Veranzio itu tidak menjelaskan apa yang mungkin telah memotivasi seorang kanselir mantan Kaisar Romawi Suci dan diplomat, pada usia 65 dan hanya beberapa hari sebelum kematiannya, untuk melompat dari Campanile. Cerita ini tidak menjelaskan bagaimana orang mungkin telah mencapai untuk mendapatkan bingkai kayu keluar dari menara ke posisi horizontal dan pada saat yang sama dirinya di bawah parasut tanpa memiringkan applicance dan runtuh.

    Cerita tentang Fausto Veranzio pengujian parasutnya demikian tampaknya menjadi awal legenda perkotaan . Tidak ada bukti yang pernah ditemukan bahwa ada yang pernah diuji parasut Veranzio itu.

    Sumber, Wikipedia
                  Buku 50 Tokoh Penemu

    Johannes Gutenberg - Pencipta Mesin Cetak



    Johannes Gutenberg lahir pada tahun ±1398 di kota Mainz, Jerman. Gutenberg adalah seorang pandai logam dan pencipta berkebangsaan Jerman yang memperoleh ketenaran berkat sumbangannya di bidang teknologi percetakan pada tahun 1450-an, termasuk aloy logam huruf (type metal) dan tinta berbasis-minyak, cetakan untuk mencetak huruf secara tepat, dan sejenis mesin cetak baru yang berdasarkan pencetak yang digunakan dalam membuat anggur.

    Jauh sebelum Gutenberg menemukan mesin cetak, negeri China pada tahun 868 M sebenarnya setelah mengenal metode pencetakan dengan cetak balok yang dipandang kurang praktis dan membutuhkan waktu yang lama.

    Gutenberg adalah putra bungsu dari pedagang kelas atas Friele Gensfleisch zur Laden, dari istri keduanya Else Wyrich. Menurut beberapa laporan Friele adalah seorang tukang emas untuk uskup di Mainz, namun kemungkinan besar ia juga melakukan perdagangan kain sebagai sumber penghasilannya. Tahun kelahiran Gutenberg tidak diketahui persis namun kemungkinan besar sekitar 1398.

    Ia menerima latihan awal sebagai seorang tukang emas. Pada tahun 1411, terjadi pemberontakan di Mainz, sehingga dia harus pindah ke Strasbourg dan tinggal di sana selama 20 tahun. Di Strasbourg, beliau menyambung hidupnya dengan membuat barang yang terbuat logam. Gutenberg menghasilkan hiasan kecil bercermin untuk dijual kepada peziarah ugama Kristen. Dia kemudiannya pulang ke Mainz dan bekerja sebagai seorang tukang emas.

    Ide Gutenberg yang terpenting tercetus ketika dia bekerja sebagai tukang emas di Mainz. Dia mendapat ide untuk menghasilkan surat pengampunan dengan membentuk kop huruf untuk mencetak surat pengampunan dengan banyak agar dia mendapat banyak uang untuk membayar hutang-hutangnya ketika dia bekerja sebagai tukang logam dahulu. Waktu itu, buku dan surat ditulis dengan tulisan aksara latin dengan tangan dan mengandung banyak kesalahan ketika penyalinan, juga kekurangannya selain itu ialah lambat.

    Oleh karena itu, Gutenberg pertama kalinya membuat acuan huruf logam dengan menggunakan timah hitam untuk membentuk tulisan aksara latin . Pada mulanya, Gutenberg terpaksa membuat hampir 300 bentuk huruf untuk meniru bentuk tulisan tangan yang berbentuk tegak-bersambung. Setelah itu, Gutenberg membuatkan untuk mereka mesin cetak yang bergerak untuk mencetak. Mesin cetak bergerak inilah sumbangan terbesar Gutenberg. Setelah menyempurnakan mesin cetak bergeraknya, Gutenberg mencetak beribu-ribu surat pengampunan yang disalah gunakan oleh Gereja Katolik untuk mendapatkan uang. Penyalah-gunaan ini merupakan puncak timbulnya bantahan daripada sebagian pihak seperti Martin Luther.

    Pada tahun 1452, Gutenberg mendapatkan pinjaman uang daripada Johann Fust untuk memulakan proyek pencetakan injilnya yang terkenal. Bagaimanapun, Gutenberg telah dipecat dari pengurusan percetakan Injil itu sebelum dia disiapkan sepenuhnya disebabkan Gutenberg dituduh mencetak surat pengampunan, kalender dan buku bacaan ringan sebagai pengisi waktu luang. Bagaimanapun Injil yang dihasilkan masih dikenal sebagai Injil Gutenberg yang mengandung 42 baris setiap muka disiapkan yang pada 15 Agustus 1456 dan dianggap sebagai buku bercetak tertua di dunia barat.

    Dua ratus jilid salinan Injil Gutenberg telah dicetak, sebagian kecilnya (lebih kurang 50) dicetak di atas kulit lembu muda. Injil Gutenberg yang cantik dan mahal itu dijual dengan harga tiga tahun gaji seorang kuli biasa. Buku itu dijual di Pameran Buku Franfurt pada tahun 1456. Secara kasar, hampir 1/4 Bible Gutenberg masih terawat sampai sekarang.

    Selain menjadi ahli dalam bidang percetakan, Gutenberg juga menciptakan bahan sampingan percetakan seperti tinta dan cetakan huruf.Tinta yang digunakan terbuat dari campuran minyak, tembaga, dan timah hitam yang masih bagus warnanya. Tinta itu adalah bentuknya lain daripada tinta untuk menulis biasa karena tinta percetakan lebih pekat dan lebih lengket. Gutenberg juga telah menyempurnakan campuran logam untuk membentuk cetakan huruf dengan gabungan timah hitam, antimon dan timah yang masih baru digunakan hingga abad ke 20.

    Gutenberg juga dipercayai untuk bekerja yang tugasnya ialah menyiapkan Ensiklopedia Catholicon of Johannes de Janua, setebal 748 halaman dengan 2 ruangan setiap halaman dan 66 baris setiap satu ruangan. Pada akhir hayatnya dia diterima sebagai pengiring kepada uskup besar Mainz. Pada tahun 1468 Gutenberg meninggal dan dimakamkan di gereja Franciscan, Mainz

    Sumber, Buku 50 Tokoh Penemu
                  Wikipedia

    Blaise Pascal - Pencipta Kalkulator

    Blaise Pascal (lahir di Clermont-Ferrand, Perancis, 19 Juni 1623 – meninggal di Paris, Perancis, 19 Agustus 1662 pada umur 39 tahun) berasal dari Perancis. Minat utamanya ialah filsafat dan agama, sedangkan hobinya yang lain adalah matematika dan geometri proyektif. Bersama dengan Pierre de Fermat menemukan teori tentang probabilitas. Pada awalnya minat riset dari Pascal lebih banyak pada bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan, di mana dia telah berhasil menciptakan mesin penghitung yang dikenal pertama kali. Mesin itu hanya dapat menghitung.

    Blaise Pascal lahir pada tanggal 19 Juni 1623 di Clermont-Ferrand, Perancis. Blaise sejak kecil dikenal sebagai seorang anak yang cerdas walaupun ia tidak menempuh pendidikan di sekolah secara resmi. Di usia 12 tahun, ia sudah bisa menciptakan sebuah mesin penghitung untuk membantu pekerjaan ayahnya. Nama ayahnya adalah Étienne Pascal. Ayahnya adalah seorang petugas penarik pajak yang bekerja di wilayah Auvergne, Perancis. Sejak usia empat tahun Blaise telah kehilangan ibunya. Karya-karyanya terus bertambah mulai dari merancang bangunan segienam (hexagram), menemukan prinsip kerja barometer, sistem kerja arloji, hingga ikut terlibat dalam pembuatan sistem transportasi bawah tanah kota Paris.

    Awalnya Paskal tidak berminat pada hal-hal yang berhubungan dengan agama. Ia kemudian mengalami peristiwa pertobatan pada usia 23 tahun. Sejak peristiwa itu, Paskal kemudian mengubah pola hidupnya dengan tekun berdoa dan berpuasa. Tidak hanya itu, ia bahkan ikut bergabung dengan komunitas biara Port-Royal yang beraliran Jansenisme. Saudara perempuannya yang bernama Jacqualine adalah seorang biarawati di biara itu. Paskal pernah menyatakan kritiknya terhadap Ordo Yesuit melalui tulisan-tulisannya yang terkenal,Lettres provinciales yang ditulisnya tahun 1656. Menurutnya, ajaran-ajaran Yesuit telah merendahkan nilai-nilai agama terutama tentang anugerah. Kelompok Yesuit juga dinilai terlalu longgar dalam hal moral dan akibatnya kekristenan menjadi duniawi. Ia meninggal dunia pada tanggal 9 Agustus 1662 dalam usia 39 tahun tanpa penyebab kematian yang jelas.

    Karya-karya

    • The Lettres Provinciales (Surat-surat ke Daerah).
    Karya tulis ini ditulisnya tanpa mencantumkan namanya. Surat-surat ini berisi pembelaan Paskal terhadap Antoine Arnauld , seorang pemimpin gerakan Jansenisme yang diadili di Sorbonne oleh karena pandangan-pandangannya dianggap berbahaya. Ini sekaligus menjadi tulisan Pascal yang menyerang kaum Yesuit.

    • The Pensées.
    Berisi kumpulan pemikiran-pemikiran Pascal yang sering ditulisnya pada secarik kertas. Melalui Pensées, Pascal hendak mengajukan suatu apologia atau pembelaan agama Kristen kepada orang-orang yang tidak percaya akan keberadaan Allah terutama kaum rasionalis. Ini merupakan usaha pembelaan terhadap kekristenan yang pertama dilakukan di zaman modern.

    Sumber, Buku 50 Tokoh Penemu
                    Wikipedia

    Simon Petrus - Paus Pertama

    Simon Petrus (Simon nama aslinya, Petrus, atau Kefas nama yang diberikan Yesus) adalah salah satu dari dua belas rasul Yesus. Ia adalah seorang nelayan dari Galilea yang diberi posisi pemimpin oleh Yesus (Matius 16:18, Yohanes 21:15-16). Ia dan saudaranya, Andreas adalah rasul pertama yang dipanggil oleh Yesus.

    Dalam Perjanjian Baru

    Santo Simon Petrus
    Lukisan oleh Francesco Cossa
    Barat: Pemimpin para Rasul, Paus Pertama
    Timur: Pre-eminent Apostle
    Lahir Abad pertama SM atau M, Betsaida
    Wafat 64, Roma, disalibkan
    Dihormati di Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks, Gereja Ortodoks Oriental, Gereja Anglikan
    Tempat ziarah utama Basilika Santo Petrus
    Hari peringatan 11 Februari, 29 Juni, 18 November
    Atribut Kunci Surga, pallium

    Latar belakang

    Menurut Injil Yohanes Petrus lahir di Betsaida, Galilea, dan ayahnya bernama Yohanes (Yohanes 1:42)/Yunus (Matius 16:17). Dikisahkan juga bahwa Yesus pernah menyembuhkan ibu mertua Petrus yang berarti Petrus pernah menikah. Sebelum ia mengikuti Yesus, ia dan saudaranya, Andreas bekerja sebagai penjala ikan (nelayan).

    Panggilan Yesus

    Dalam Injil Matius dan Markus diceritakan bahwa Petrus sedang mencari ikan di danau Genesaret ketika Yesus menghampiri mereka dan berkata, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Matius 4:19).
    Dalam Injil Lukas diceritakan bahwa Yesus naik ke perahu Petrus untuk mengajar orang banyak di tepi danau Genesaret, kemudian ia menunjuk Petrus untuk menebarkan jalanya karena ia tahu bahwa Petrus semalaman tidak mendapatkan ikan. Petrus mematuhi petunjuk Yesus dan ia serta nelayan lainnya mendapat ikan dalam jumlah besar. Dengan mujizat tersebut Petrus menjadi percaya kepada Yesus bersama-sama dengan Yakobus dan Yohanes. Andreas tidak disebutkan dalam kisah ini.
    Dalam Injil Yohanes diceritakan bahwa Andreas adalah salah satu murid Yohanes Pembaptis yang pergi untuk mengikut Yesus. Ia lalu memanggil saudaranya, Simon, dan menceritakan bahwa ia telah menemukan Mesias. Andreas lalu membawa Petrus kepada Yesus dan Yesus menamakan Simon "Kefas" (bahasa Aram) untuk 'batu', bahasa Yunani maskulin: "Petros", feminim: "Petra". Di kemudian hari nama Yunaninya banyak digunakan karena bahasa Yunani adalah bahasa universal pada waktu itu.
    Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."(Yohanes 1:42)
    Yesus menamai Simon sebagai Petrus atau "batu karang" mengisyaratkan bahwa Yesus akan meletakkan landasan gerejanya di atas Petrus. (Matius 16:18). 

    Mencuci kaki

    Dalam Injil Yohanes diceritakan bahwa ketika Petrus menolak kakinya dicuci oleh Yesus yang mencuci kaki murid-muridnya (karena ia merasa tidak layak), Yesus menjawabnya "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." Petrus lalu menjawab Yesus, "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" (Yohanes 13:6-9)

    Berjalan di atas air


    Dalam Injil Matius diceritakan Petrus yang berjalan di atas air ketika ia melihat Yesus yang berjalan di atas air, namun karena ia takut, maka ia tengglam lalu ditolong oleh Yesus. (Matius 14:22-32). Injil Markus juga menceritakan Yesus yang berjalan di atas air namun tidak menceritakan Petrus yang berjalan di atas air.

    Mengakui Yesus sebagai Kristus

    Petrus yang pertama kali mengakui imannya akan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup (Matius 16:16, Markus 8:29, Lukas 9:20). Petrus juga hadir dan berbicara dalam kisah-kisah lebih sering daripada rasul-rasul yang lain, misalnya dalam peristiwa Transfigurasi Kristus, peristiwa Petrus menegur Yesus yang berkata bahwa Ia akan disalibkan, kisah Petrus dan pemungut bea Bait Allah, kisah Yesus berdoa di taman Getsemani, kisah Yesus dan pohon ara, dan lain-lainnya.

    Penangkapan Yesus

    Dalam Injil Yohanes diceritakan bahwa ketika Yesus akan ditangkap, Petrus menghunus pedangnya dan memotong telinga kanan hamba Imam Besar yang mencoba menangkap Yesus, yang bernama Malkhus. Yesus lalu menegur Petrus, dan di dalam Injil Lukas ditambahkan bahwa Yesus lalu menjamah telinga Malkhus dan menyembuhkannya. (Lukas 22:51)

    Petrus menyangkal Yesus

    Yesus memperingati Petrus bahwa setelah Ia ditangkap nanti, Petrus akan menyangkalNya tiga kali, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." (Matius 26:34) Sebelum dan sesudah Yesus mengatakan itu, Petrus masih bersikeras bahwa ia adalah murid yang paling setia.
    Petrus menjawab-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak." (Matius 26:33)
    Kata Petrus kepada-Nya: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua murid yang lainpun berkata demikian juga. (Matius 26:35)
    Pada akhirnya diceritakan bahwa tepat seperti perkataan Yesus, Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok.
    Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu." Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: "Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud." Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: "Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu." Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu." Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam. (Matius 26:69-74)

    Karya setelah penyaliban Yesus

    Petrus masih belum berkarya banyak pasca kenaikan Yesus ke Surga. Petrus dan murid-murid yang lain masih tinggal di dalam kota Yerusalem, berkumpul untuk bertekun dan berdoa bersama dengan sekitar seratus dua puluh orang, sampai tiba hari Pentakosta, di mana Roh Kudus dicurahkan seperti lidah-lidah api. Setelah peristiwa itulah, Petrus memberikan kotbah yang akhirnya menyebabkan tiga ribu orang memberi diri dibaptis.
    Di kemudian hari Petrus pergi dan tinggal di Roma. Roma kala itu adalah pusat seluruh Kekaisaran Romawi. Di sana, Petrus mempertobatkan banyak orang. Ketika penganiayaan yang kejam terhadap orang-orang Kristen dimulai, jemaat di sana memohon pada Petrus untuk meninggalkan Roma dan menyelamatkan diri.

    Quo Vadis

    Konon menurut tradisi, ia memang sedang dalam perjalanan meninggalkan Roma ketika ia berjumpa dengan Yesus di tengah jalan. Petrus bertanya kepada-Nya, “Tuhan hendak ke manakah Engkau pergi?” (dalam bahasa Latin: "Quo Vadis Domine?") Jawab Yesus, “Aku datang untuk disalibkan kedua kalinya.” Kemudian Petrus berbalik dan kembali ke Roma. Ia mengerti bahwa penglihatannya berarti bahwa ia harus menderita dan wafat bagi Yesus.

    Kepausan

    Paus Santo Petrus

    Nama lahir Simon bin Yunus
    Mulai menjabat ±30
    Sampai ±64/±67 (?)
    Pendahulu tidak ada
    Pengganti Linus
    Lahir tanggal tidak diketahui
    Betsaida, Galilea
    Wafat ±64/±67 (?)
    Roma, Italia



    Saat itu belum disebut paus, namun Petrus telah menjadi kepala Konsili Para Rasul di Yerusalem pada tahun 50.
    Selain berkhotbah, Petrus juga menulis 2 surat (Surat 1 Petrus dan 2 Petrus yang termasuk dalam Perjanjian Baru di Alkitab.

    Kematian

    Menurut tradisi, Petrus wafat dengan cara disalibkan terbalik di Roma saat pemerintahan Nero setelah menolak disalibkan dengan kepala di atas karena ia merasa tidak layak untuk mati dalam posisi yang sama seperti Yesus. Petrus dimakamkan di tempat yang kini persis di bawah altar utama Basilika Santo Petrus di Vatikan.

    Paus Yohanes Paulus II - Sang Penerang

    Beato Paus Yohanes Paulus II (Latin: Ioannes Paulus PP. II, Italia: Giovanni Paolo II, Polandia: Jan Paweł II, Inggris: John Paul II) yang nama aslinya: Karol Józef Wojtyła, lahir di Wadowice, Polandia, 18 Mei 1920 – meninggal di Istana Apostolik, Vatikan, 2 April 2005 pada umur 84 tahun adalah Paus, Uskup Roma, dan kepala Gereja Katolik Roma sejak 16 Oktober 1978 hingga kematiannya. Dia juga pemimpin dari Negara Kota Vatikan, negara berdaulat dengan luas terkecil di dunia.

    Paus Yohanes Paulus II diangkat pada usia 58 tahun pada tahun 1978. Dia adalah Paus non-Italia pertama sejak Paus Adrianus VI, yang menjabat untuk sesaat antara tahun 1522-1523. Dia memerangi komunisme, kapitalisme yang tak terkendali dan penindasan politik. Dia dengan tegas melawan aborsi dan membela pendekatan Gereja Katolik Roma yang lebih tradisional terhadap seksualitas manusia.

    Dia telah melakukan lawatan 129 negara selama menjadi Paus dan menjadi pemimpin dunia yang paling banyak melawat dalam sejarah. Dia berbicara dalam bahasa-bahasa Italia, Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Portugis, Ukraina, Rusia, Kroasia, Esperanto, Yunani Kuno dan Latin selain bahasa ibunya bahasa Polski.[3] Sebagai bagian dari wewenang panggilan sucinya yang universal, ia telah melakukan beatifikasi terhadap 1.340 orang dan melakukan kanonisasi 483 santo/santa,lebih banyak dari gabungan beatifikasi dan kanonisasi yang dilakukan pendahulunya selama lima abad terakhir.

    Selain itu, masa tugasnya sebagai Paus adalah yang ketiga terlama dalam sejarah, setelah Paus Pius IX dan Santo Petrus. Pada tahun 1989, ia mengunjungi Indonesia. Kota-kota yang dikunjunginya adalah Jakarta, Medan (Sumatera Utara), Yogyakarta (Jawa Tengah, dan DIY) dan Dili (Timor Timur). Setelah berkunjung ke Indonesia, komentarnya ialah: "Tidak ada negara yang begitu toleran seperti Indonesia di muka bumi."

    Pada 19 Desember 2009, Yohanes Paulus II telah mendapat gelar venerabilis dari penerusnya Paus Benediktus XVI dan sebagai langkah pendahulu sebelum beatifikasi pada 1 Mei 2011.

    Biografi

    Kelahiran dan masa muda

    Karol Józef Wojtyła (dilafazkan sebagai: voi-TI-wa; IPA: /ˈkarɔl ˈjuzef vɔjˈtɨwa/) lahir pada 18 Mei 1920 di Wadowice, Polandia selatan, sebagai seorang anak ketiga dari opsir pada Tentara Kekaisaran Habsburg Austria, yang juga bernama Karol Wojtyła dan Emilia Kaczorowska, yang seorang keturunan Lithuania. Ibunya meninggal pada 13 April 1929, ketika ia berusia delapan tahun. Kakak perempuan Karol, Olga meninggal di waktu bayi sebelum kelahiran Karol; dengan demikian dia tumbuh dan dekat dengan kakaknya Edmund yang lebih tua 14 tahun, dan punya panggilan Mundek. Namun, pekerjaan Edmund sebagai dokter mengakibatkan kematiannya karena skarlatina (scarlet fever). Hal ini sangat mempengaruhi Karol.

    Sebagai remaja, Wojtyła adalah seorang atlet dan sering bermain sepak bola sebagai penjaga gawang. Masa kecilnya terpengaruh kontak intensif dengan komunitas Yahudi. Pertandingan sepak bola sering diadakan antara tim Yahudi dan Katolik, dan Wojtyła biasanya secara sukarela akan menawarkan diri menjadi penjaga gawang cadangan di tim Yahudi jika kekurangan pemain.

    Pada pertengahan 1938, Karol Wojtyła dan ayahnya meninggalkan Wadowice dan pindah ke Kraków, dimana dia masuk ke Universitas Jagiellonian. Sambil belajar filologi dan berbagai bahasa di universitas, dia menjadi pustakawan sukarela dan juga harus ikut serta dalam wajib militer di Legiun Akademik Resimen Infanteri ke 36 Polandia, namun dia penganut pasifisme dan menolak menembakkan senjata. Dia juga tampil di beberapa grup teater dan menjadi penulis naskah drama.Selama masa itu, kemampuan berbahasanya berkembang dan dia belajar 12 bahasa asing, sembilan diantaranya kemudian dipakai terus ketika menjadi Paus (Bahasa Polandia, Slovakia, Rusia, Italia, Perancis, Spanyol, Portugis, Jerman, dan Inggris, ditambah dengan pengetahuan akan Bahasa Latin Gerejawi).

    Pada tahun 1939 terjadi pendudukan pendudukan Nazi dan menutup universitas tempatnya belajar setelah invasi terhadap Polandia.Semua warga yang sehat diwajibkan bekerja, dari tahun 1940 sampai 1944, Wojtyła bekerja berbagai macam mulai dari pencatat menu di restoran, pekerja kasar tambang batu kapur, dan di pabrik kimia Solvay untuk menghindari dideportasi ke Jerman. Ayahnya, seorang bintara di Angkatan Darat Polandia, meninggal karena serangan jantung pada 1941, meninggalkan Karol seorang diri dari sisa keluarga. "Saya tidak ada pada saat kematian ibu saya, saya tidak ada pada saat kematian kakak saya, saya tidak ada pada saat kematian ayah saya" katanya, menceritakan masa-masa kehidupannya ketika itu, hampir empat puluh tahun kemudian, "Pada usia 20, saya sudah kehilangan semua orang yang saya cintai"

    Dia kemudian mulai berpikir serius untuk menjadi pastor setelah kematian ayahnya, kemudian panggilan imamatnya perlahan menjadi ‘sesuatu yang mutlak dan tak terbantahkan.’ Pada Oktober 1942, dengan meningkatnya keinginan untuk menjadi pastor, dia mengetuk pintu Wisma Uskup Agung di Kraków, dan menyatakan bahwa dia ingin belajar menjadi pastor.Tidak lama kemudian, dia mulai belajar di seminari rahasia yang dijalankan oleh uskup agung Kraków Kardinal Adam Stefan Sapieha.

    Pada 29 Februari 1944, Wojtyła tertabrak oleh truk Nazi Jerman. Tak diduga, perwira Wehrmacht Jerman kasihan padanya dan mengirimkannya ke rumah sakit. Dia menghabiskan waktu dua minggu untuk pulih dari gegar otak dan luka bahu. Kecelakaan ini dan penyelamatannya membuatnya makin yakin dengan panggilan imamatnya.

    Pada 6 Agustus 1994, ‘Minggu Hitam’, Gestapo mengumpulkan para pria muda di Kraków untuk menghindari demonstrasi yang serupa dengan demonstrasi di Warsawa. Wojtyła selamat dengan bersembunyi di ruang bawah tanah rumah pamannya di 10 Tyniecka Street, ketika tentara Jerman mencari di lantai atas. Lebih dari 8000 pria dan pemuda ditangkap hari itu, namun dia kemudian bersembunyi di Wisma Uskup Agung, dimana dia tetap bersembunyi sampai Jerman pergi.

    Pada 17 Januari 1945 malam, Jerman meninggalkan kota, dan para pelajar mengambil kembali reruntuhan seminari. Wojtyła dan seminaris lainnya secara sukarela bertugas membersihkan tumpukan kotoran beku dari jamban. Bulan itu, Wojtyła menolong seorang gadis pengungsi Yahudi berusia 14 tahun bernama Edith Zierer yang melarikan diri dari perkampungan buruh di Częstochowa. Setelah terjatuh dari peron stasiun kereta, Wojtyła membawanya ke kereta dan menemaninya hingga selamat sampai Kraków. Zierer sangat berterima kasih pada Wojtyła yang menyelamatkan hidupnya hari itu. B'nai B'rith sebuah organisasi Yahudi dan beberapa otoritas lainnya menyatakan bahwa Wojtyła telah menolong dan melindungi banyak Yahudi Polandia lainnya dari Nazisme.

    Menjadi pastor


    Setelah menyelesaikan pendidikan seminari di Kraków, Karol Wojtyła ditahbiskan sebagai pastor di Hari Para Orang Kudus pada 1 November 1946, oleh uskup agung Kraków, Kardinal Adam Stefan Sapieha. Dia kemudian berangkat untuk belajar teologi di Roma, di Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas (Pontifical International Athenaeum Angelicum), dimana dia kemudian mendapat Diploma Teologi Suci dan kemudian Doktor Teologi Suci. Gelar Doktorat ini yang pertama dari dua, didasarkan pada disertasi Latin "Doktrin Iman Menurut Santo Yohanes dari Salib Suci"
    Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas di Roma.

    Dia kembali ke Polandia pada musim panas 1948 dengan tugas pertama pastoral di desa Niegowić, lima belas mil dari Kraków. Setibanya di Niegowić pada musim panen, tindakan pertama yang dilakukannya adalah berlutut dan mencium lantai.Tindakan ini diadaptasi dari kebiasaan santo Jean Marie Baptiste Vianney yang berasal dari Perancis, yang kemudian menjadi ciri khasnya ketika menjadi Paus.

    Pada Maret 1949, dia dipindah ke paroki Santo Florian di Kraków, dia mengajar ilmu etika di Universitas Jagiellonian kemudian di Universitas Katolik Lublin (John Paul II Catholic University of Lublin). Sambil mengajar, Wojtyła bergabung dengan grup terdiri dari 20 pemuda, yang kemudian mereka juluki Rodzinka, atau "keluarga kecil". Mereka berkumpul untuk berdoa, diskusi filosofi, serta menolong orang buta dan sakit. Grup ini kemudian berkembang sampai sekitar 200 anggota, dan kegiatannya bertambah dengan bermain ski tahunan dan kayak.

    Tahun 1954 dia memperoleh doktorat kedua, dalam bidang filosofi, mengevaluasi kelayakan etika Katolik berdasarkan sistem etis dari fenomenologi Max Scheler. Namun, otoritas Komunis menghalanginya memperoleh gelar sampai 1957.

    Selama periode ini, Wojtyła menulis seri artikel di koran Katolik Kraków Tygodnik Powszechny (Mingguan Umum) berkaitan dengan masalah kontemporer gereja. Dia juga fokus pada pembuatan literatur asli selama dua belas tahun pertama menjadi pastor. Perang, hidup dalam Komunisme, dan tanggung jawab pastoralnya mempengaruhi puisi dan naskah dramanya. Namun, dia mempublikasikan karya-karyanya dalam dua nama samaran - Andrzej Jawień dan Stanisław Andrzej Gruda - untuk memisahkan antara literatur dan tulisan religiusnya (yang diterbitkan dengan nama aslinya) dan agar karya literaturnya mendapat penghargaannya sendiri tanpa pengaruh masalah religi kepastorannya. Pada 1960, Wojtyła menerbitkan buku teologis berpengaruh Cinta dan Tanggungjawab sebuah pembelaan terhadap ajaran-ajaran tradisional Gereja tentang pernikahan dari sudut pandang filosofis baru.

    Menjadi uskup, uskup agung dan kardinal

    Kunjungan ke gereja Santa Perawan Maria di Kraków. Carmelite on the Sand - awal Juni 1967, beberapa waktu sebelum dilantik menjadi kardinal

    Pada 4 Juli 1958, ketika Wojtyła sedang berlibur bermain kayak di sebuah danau di utara Polandia, Paus Pius XII mengangkatnya menjadi uskup pembantu (auxiliary bishop) di Kraków. Dia dipanggil ke Warsawa, untuk bertemu Primat Polandia Kardinal Stefan Wyszyński, yang memberitahunya mengenai pengangkatannya. Dia menyetujui untuk membantu uskup agung Eugeniusz Baziak sebagai uskup pembantu, dia ditahbiskan ke keuskupan menggunakan nama Uskup Ombi pada 28 September 1958. Pada usia 38 tahun, dia menjadi uskup termuda di Polandia. Baziak wafat pada Juni 1962 dan pada 16 Juli 1962, Karol Wojtyła terpilih sebagai Vicar Capitular, atau administrator sementara keuskupan agung sampai uskup agung baru terpilih.

    Mulai Oktober 1962, Uskup Wojtyła mengambil bagian pada Konsili Vatikan II (1962–1965),dan memberikan kontribusi pada dokumen-dokumen penting yang kelak menjadi Pernyataan tentang Kebebasan Beragama (Dignitatis Humanae) dan Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern (Gaudium et Spes), dua hasil utama Konsili, ditilik dari sudut pandang historis dan pengaruhnya.

    Uskup Wojtyła juga terlibat pada semua majelis sinode para uskup. Kemudian pada 13 Januari 1963, Paus Paulus VI mengangkatnya menjadi Uskup agung Kraków.[46] Pada 26 Juni 1967, Paus Paulus VI mengumumkan promosi Uskup agung Wojtyła kepada Dewan Kardinal. Dia dinamakan Imam Kardinal titulus San Caesareo de Appia.

    Pada tahun 1967, dia berperan penting dalam perumusan ensiklik Humanae Vitae, yang berkaitan dengan masalah pelarangan aborsi dan pengaturan kelahiran dalam KB. Menurut seorang saksi baru, Kardinal Wojtyla pada tahun 1970 melarang distribusi di keuskupan Kraków surat pastoral tentang keuskupan Polandia sedang mempersiapkan upacara ulang tahun ke-50 Perang Polandia-Soviet.

    Menjadi Paus

    Lambang Paus Yohanes Paulus II dengan Salib Maria. Huruf M untuk Santa Perawan Maria, ibu Yesus, yang mana merupakan pengabdiannya (devosi)

    Agustus 1978, pada wafatnya Paus Paulus VI, Kardinal Karol Wojtyła menghadiri konklaf Paus yang memilih Albino Luciani, Kardinal Venesia, sebagai Paus Yohanes Paulus I. Pada usia 65, Luciani bisa dikatakan masih muda sebagai Paus. Wojtyła pada usia 58 masih bisa mengharapkan untuk menghadiri sebuah konklaf Paus lainnya sebelum mencapai usia 80 tahun (usia maksimal dalam mengikuti konklaf). Namun tidak diduga bahwa konklaf berikutnya datang begitu cepat pada 28 September 1978, hanya 33 hari setelah menjabat, Paus Yohanes Paulus I wafat. Pada Oktober 1978 Wojtyła kembali ke Vatikan untuk menghadiri konklaf kedua dalam waktu kurang dari dua bulan.

    Konklaf kedua pada tahun 1978 diadakan pada 14 Oktober, sepuluh hari setelah pemakaman Paus Yohanes Paulus I. Pada konklaf ada dua kubu yang sama-sama memiliki calon kuat: Kardinal Giuseppe Siri, kubu konservatif yang merupakan Uskup Agung Genoa, dan Kardinal Giovanni Benelli, kubu liberal yang merupakan Uskup Agung Firenze (Florence) dan seorang teman dekat Paus Yohanes Paulus I.

    Pendukung Benelli begitu yakin bahwa ia bisa terpilih, pada putaran pemungutan suara pertama, Benelli memenangkan sembilan suara. Namun, dari skala oposisi berarti suara yang diperoleh para calon tidak mencukupi untuk menjadi yang terpilih. Kardinal Franz König, Uskup Agung Wina, mengusulkan kepada para rekan pemilih lainnya untuk mengajukan kandidat kompromi: Kardinal Karol Józef Wojtyła dari Polandia. Wojtyła akhirnya memenangkan pemilihan dengan delapan surat suara pada hari kedua, menurut media Italia, 99 suara dari 111 pemilih memilihnya. Dia kemudian memilih nama Yohanes Paulus II untuk menghormati pendahulunya, dan asap putih muncul untuk memberitahu khalayak yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus bahwa seorang Paus telah terpilih. Dia menerima pemilihannya dengan kata-kata: ‘Dengan ketaatan dalam iman Kristus, Tuhanku, dan dengan kepercayaan pada Bunda Kristus dan Gereja, meskipun dalam kesulitan yang besar, saya menerima’ Ketika Paus baru muncul di balkon, ia telah melanggar tradisi dengan menyapa kerumunan massa.

    Wojtyła menjadi Paus ke-264 menurut kronologis daftar Paus dan menjadi Paus non Italia pertama sejak 455 tahun. Dengan usia 58 tahun, dia adalah Paus termuda yang dilantik sejak Paus Pius IX pada 1846, yang berusia 54 tahun. Seperti halnya pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II meniadakan penobatan kepausan tradisional yang seperti pelantikan dalam kerajaan, sebagai gantinya menerima pelantikan gerejawi yang disederhanakan pada 22 Oktober 1978. Selama pelantikan, ketika para kardinal berlutut di hadapannya untuk mengambil sumpah mereka dan mencium cincinnya, dia berdiri ketika Kardinal Stefan Wyszyński dari Polandia berlutut, menghentikannya mencium cincin dan memeluknya.

    Karya dan kehidupan

    Pengajaran
    Paus Yohanes Paulus II di Lapangan Santo Petrus (1985)
    “ Masa depan dimulai hari ini, bukan besok. ”


    —Paus Yohanes Paulus II

    Sebagai Paus, salah satu peran Yohanes Paulus II yang paling penting adalah untuk mengajar orang tentang agama Kristen. Dia menulis 14 ensiklik Paus dan mengajarkan tentang "Teologi Tubuh".

    Dalam suratnya Di awal milenium yang baru (Novo Millennio Ineunte) dia menekankan pentingnya semua prioritas gereja pada Yesus Kristus: "Tidak, kami tidak akan diselamatkan oleh program namun oleh Manusia."

    Dalam Cahaya Kebenaran (Veritatis Splendor), dia menekankan ketergantungan manusia pada Allah dan HukumNya ("Tanpa Sang Pencipta, makhluk ciptaan akan hilang") dan "ketergantungan kebebasan pada kebenaran". Dia mengingatkan bahwa manusia yang "menggantungkan dirinya sendiri pada relativisme dan skeptisime, akan tersesat dalam pencarian kebebasan semu jauh dari kebenaran itu sendiri".

    Dalam Iman dan Akal budi (Fides et Ratio) Yohanes Paulus II mempromosikan minat baru dalam filsafat dan pencarian kebenaran dalam hal-hal teologis. Mengambil dari berbagai jenis sumber (seperti dari Thomisme), dia menggambarkan hubungan saling mendukung antara iman dan akal, dan menekankan para teolog harus fokus pada hubungan itu.

    Yohanes Paulus II juga menulis banyak tentang kelompok pekerja dan doktrin sosial dari Gereja, dituangkannya dalam tiga ensiklik. Melalui ensiklik dan banyak Surat Apostolik serta Opininya, Yohanes Paulus II membahas tentang martabat perempuan dan pentingnya keluarga dalam masa depan kemanusiaan.

    Ensiklik lain termasuk Injil Kehidupan (Evangelium Vitae) dan Ut Unum Sint (Supaya Mereka Semua Menjadi Satu). Meskipun banyak kritik yang menuduhnya tidak fleksibel, dia menegaskan kembali ajaran moral Katolik menentang pembunuhan, eutanasia dan aborsi yang telah ada lebih dari seribu tahun.
    “ Ke mana pun arah keluarga, demikian juga arah negara dan demikian juga seluruh dunia tempat kita hidup ”


    —Paus Yohanes Paulus II
    Perjalanan pastoral
    Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Parlemen Polandia pada 11 Juni 1999

    Bekas Presiden AS George W. Bush dan Laura Bush mengunjungi Paus Yohanes Paulus II di Castel Gandolfo pada 23 Juli 2001


    Selama masa kepausannya, Paus Yohanes Paulus II melakukan perjalanan ke 129 negara, dan mencatat lebih dari 1,1 juta kilometer jarak perjalanan. Dia selalu menarik perhatian banyak orang dalam perjalanannya, beberapa yang terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah manusia seperti Hari Pemuda Sedunia di Manila 1995, dimana berkumpul sekitar 5 juta orang. Sebagian orang memperkirakan bahwa ini mungkin merupakan perkumpulan orang Kristiani terbesar yang pernah ada.

    Dua dari kunjungan resmi Paus Yohanes Paulus II adalah ke Meksiko pada Januari 1979 dan ke Polandia pada Juni 1979, dimana selalu dikerumuni oleh kegembiraan manusia. Kunjungan pertama ke Polandia ini meningkatkan semangat nasional dan mencetuskan formasi gerakan Solidaritas (Solidarność) pada tahun 1980, yang membawa kebebasan dan hak asasi pada negara yang bermasalah ini. Pada kunjungan berikutnya ke Polandia dia memberikan dukungan diam-diam pada organisasi ini. Beberapa perjalanan ini menguatkan pesannya dan Polandia memulai proses yang kemudian mengalahkan dominasi Uni Soviet di Eropa Timur pada tahun 1989.

    Sementara beberapa kunjungannya (seperti ke Amerika Serikat dan Tanah Suci) meneruskan kunjungan sebelumnya dari Paus Paulus VI, Yohanes Paulus II menjadi Paus pertama yang berkunjung ke Gedung Putih ketika perjalanan ke AS pada Oktober 1979, dimana dia disambut dengan hangat oleh calon presiden waktu itu Jimmy Carter. Dia juga berkunjung ke banyak negara dimana belum pernah ada Paus yang berkunjung sebelumnya. Dia adalah Paus pertama yang mengunjungi Meksiko di Januari 1979, sebelum berkunjung ke Polandia sebagai Paus, juga ke Irlandia kemudian pada tahun yang sama. Dia adalah paus yang memerintah pertama yang berkunjung ke Britania Raya, pada 1982,  dimana dia bertemu Ratu Elizabeth II, Gubernur Agung dari Gereja Inggris. Dia melakukan perjalanan ke Haiti pada 1983, dimana dia berbicara dalam bahasa kreol kepada ribuan warga Katolik miskin yang berkumpul menyambutnya di bandar udara. Pesannya, "sesuatu harus berubah di Haiti", berdasarkan pada perbedaan yang menyolok antara kaya dan miskin, mendapat tepuk tangan bergemuruh. Pada tahun 2000, dia adalah Paus modern pertama yang berkunjung ke Mesir,  dimana dia bertemu dengan paus Koptik, Paus Shenouda III dan Patriark Ortodoks Yunani dari Alexandria. Dia juga menjadi paus Katolik pertama yang berkunjung dan berdoa di sebuah masjid di Damaskus, Siria pada tahun 2001. Dia berkunjung ke Masjid Agung Umayyah, yang sebelumnya adalah gereja Kristen dimana Yohanes Pembaptis diyakini dimakamkan, dimana dia berpidato untuk meminta Muslim, Kristen dan Yahudi untuk bekerja bersama-sama.

    Pada 15 Januari 1995, ketika berlangsung Hari Pemudia Dunia X, dia mengadakan misa untuk sekitar lima sampai tujuh juta umat di Luneta park, Manila, Filipina, yang menjadi pertemuan tunggal terbesar dalam sejarah Kristen. Pada Maret 2000, ketika mengunjungi Yerusalem, Yohanes Paulus II menjadi paus pertama dalam sejarah yang berkunjung dan berdoa di Tembok Ratapan. Pada September 2001, dalam suasana paska Serangan 11 September 2001, dia melakukan perjalanan ke Kazakhstan dengan pengunjung yang kebanyakan adalah muslim, dan ke Armenia, untuk menghadiri peringatan 1.700 tahun masuknya Kristen di negara itu.
    “ Hari ini, pertama kali dalam sejarah, seorang Uskup Roma menjejakkan kaki di tanah Inggris. Tanah terbuka ini, pernah menjadi pos terdepan dari dunia luar dengan keyakinan berbeda, telah menjadi, melalui pemberitaan Injil, bagian yang dicintai dan diberkahi dari ladang anggur Kristus ”


    —Paus Yohanes Paulus II (1982)

    Pada kunjungan lima harinya ke Indonesia pada 8-12 Oktober 1989, Paus Yohanes Paulus II menyinggahi Jakarta, Yogyakarta, Maumere, Dili (Timor Timur - waktu itu masih menjadi provinsi ke 27 Indonesia), dan Medan. Dalam kunjungan itu Sri Paus memimpin Misa Agung dan berdialog langsung dengan lebih dari satu juta orang. Pada Misa Agung di Senayan, Paus mengucapkan doa Tanda Salib: “Atas nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus” dalam bahasa Indonesia yang lancar, yang dijawab umat “Amin”. Misa itu seluruhnya berlangsung dalam Bahasa Indonesia, dan Paus dapat melafalkan doa dan nyanyian dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan lancar, nyaris tanpa salah, termasuk ketika menyanyikan Prefasi yang panjang. Paus Yohanes Paulus II juga mengadakan pertemuan khusus dengan kaum awam dan cendekiawan Katolik Indonesia di kampus Universitas Atma Jaya Jakarta, serta meresmikan gedung baru "Karol Wojtyła". Paus sempat menyatakan:
    “ Karena itu saya bangga akan Anda, orang Katolik yang hanya merupakan minoritas kecil, membuat kontribusi yang signifikan terhadap pendidikan tinggi di Indonesia. ”


    —Paus Yohanes Paulus II pada peresmian gedung “Karol Wojtyła” di kampus Atma Jaya


    Perjalanan Dunia Paus Yohanes Paulus II:


    1979

    1. 25 Januari–1 Februari
    Republik Dominika dan Meksiko
    2. 2-10 Juni
    Polandia
    3. 29 September–7 Oktober
    Irlandia dan Amerika Serikat
    4. 28-30 November
    Turki

    1980

    5. 2-12 Mei
    Zaire, Republik Kongo, Kenya, Ghana, Burkina Faso, dan Pantai Gading
    6. 30 Mei 30–2 Juni
    Perancis
    7. 30 June–12 Juli
    Brasil
    8. 15-19 November
    Jerman Barat

    1981

    9. 16-27 Februari
    Filipina, Guam, dan Jepang

    1982

    10. 12-19 Februari
    Nigeria, Benin, Gabon, dan Guinea Khatulistiwa
    11. 12-15 Mei
    Portugal (termasuk Fátima)
    12. 28 Mei–2 June
    Britania Raya
    13. 10-13 Juni
    Argentina
    14. 15 June
    Swiss
    15. 29 Agustus
    San Marino
    16. 31 Oktober–9 November
    Spanyol

    1983

    17. 2-10 Maret
    Kosta Rika, Nikaragua, Panama, El Salvador, Guatemala, Belize, Honduras dan Haiti
    18. 16-23 Juni
    Polandia
    19. 14-15 Agustus
    Lourdes di Perancis
    20. 10-13 September
    Austria

    1984

    21. 2-12 Mei
    Korea Selatan, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Thailand
    22. 12-17 Juni
    Swiss
    23. 9-20 September
    Kanada
    24. 10-12 Oktober
    Spanyol, Republik Dominika, Puerto Rico

    1985

    25. 26 Januari–6 Februari
    Venezuela, Ekuador, Peru, Trinidad dan Tobago
    26. 11-21 Mei
    Belgia, Belanda, Luxembourg
    27. 8-19 Agustus
    Togo, Pantai Gading, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Zaire, Kenya, Maroko
    28. 8 September
    Liechtenstein

    1986

    29. 1 Februari–10 Februari
    India
    30. 1-8 Juli
    Colombia, St. Lucia
    31. 4-7 Oktober
    Perancis
    32. 19 November–1 Desember 1
    Australia, Selandia Baru, Bangladesh, Fiji, Singapura, Seychelles

    1987

    33. 31 Maret–13 April
    Uruguay, Chili, Argentina
    34. 30 April–4 Mei
    Jerman Barat
    35. 8-14 Juni
    Polandia
    36. 10-20 September
    Amerika Serikat dan Kanada

    1988

    37. 7-18 Mei
    Uruguay, Bolivia, Peru, Paraguay
    38. 23-27 Juni
    Austria
    39. 10-19 September
    Zimbabwe, Botswana, Lesotho, Swaziland, Mozambique, memutar melalui Afrika Selatan
    40. 8-11 Oktober
    Perancis

    1989

    41. 28 April–6 Mei
    Madagaskar, Réunion, Zambia, and Malawi
    42. 1-10 Juni
    Norwegia, Islandia, Finlandia, Denmark, Swedia
    43. 19-21 Agustus
    Spanyol
    44. 6-16 Oktober
    Korea Selatan, Indonesia, Timor Timur, Mauritius

    1990

    45. 25 Januari–1 Februari
    Cape Verde, Guinea-Bissau, Mali, Burkina Faso, Chad
    46. 21-22 April
    Cekoslowakia
    47. 6-13 May
    Meksiko, Curaçao
    48. 25-27 Mei
    Malta
    49. 1-10 September
    Tanzania, Rwanda, Burundi, Pantai Gading

    1991

    50. 10-13 Mei
    Portugal
    51. 1-9 Juni
    Polandia
    52. 13-20 Agustus
    Polandia, Hungaria
    53. 12-21 Oktober
    Brasil

    1992

    54. 19-26 Februari
    Senegal, Gambia, Guinea
    55. 4-10 Juni
    Angola, São Tomé dan Príncipe
    56. 9-14 Oktober
    Republik Dominika

    1993

    57. 3-10 Februari
    Benin, Uganda, Sudan
    58. 25 April
    Albania
    59. 12-17 Juni
    Spanyol
    60. 9-16 Agustus
    Jamaika, Meksiko, Amerika Serikat
    61. 4-10 September
    Lituania, Latvia, Estonia

    1994

    62. 10-11 September
    Kroasia

    1995

    63. 12-21 Januari
    Filipina, Australia, Papua Nugini, Sri Lanka
    64. 20-22 Mei
    Ceko, Polandia
    65. 3-4 Juni
    Belgia
    66. 30 Juni
    Slowakia
    67. 14-20 September
    Kamerun, Kenya, Afrika Selatan
    68. 4-8 Oktober
    Amerika Serikat

    1996

    69. 5-12 Februari
    Guatemala, El Salvador, Nikaragua, Venezuela
    70. 14 April
    Tunisia
    71. 17-19 Mei
    Slovenia
    72. 21-23 Juni
    Jerman
    73. 6-7 September
    Hungaria
    74. 19-22 September
    Perancis

    1997

    75. 12-13 April
    Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina
    76. 25-27 April
    Ceko
    77. 10-11 Mei
    Lebanon
    78. 31 Mei–10 Juni
    Polandia
    79. 21-24 Agustus
    Perancis
    80. 2-5 Oktober
    Brasil

    1998

    81. 21-25 Januari
    Kuba
    82. 21-23 Maret
    Nigeria
    83. 19-21 Juni
    Austria
    84. 2-4 Oktober
    Kroasia

    1999

    85. 22-25 Januari
    Mexico City di Meksiko
    26-27 Januari
    St. Louis, Missouri
    86. 7-9 Mei
    Rumania
    87. 5-17 Juni
    Polandia
    88. 19 September
    Slovenia
    89. 5-9 November
    New Delhi, India, dan Tbilisi di Georgia

    2000

    90. 24-26 Februari
    Mesir
    91. 20-26 Maret
    Jordan, Israel, dan Wilayah Otonomi Palestina
    92. 12-13 Mei
    Fátima di Portugal

    2001

    93.(a) 4-5 Mei
    Athena di Yunani
    93.(b) 5-6 Mei
    Suriah
    93.(c) 8-9 Mei
    Malta
    94. 23-27 Juni
    Ukraina
    95. 22-27 September
    Armenia dan Kazakhstan

    2002

    96. 22-26 Mei
    Azerbaijan dan Bulgaria
    97. 23 Juli–1 Agustus
    Kanada, Guatemala, dan Meksiko
    98. 16-19 Agustus
    Polandia

    2003

    99. 3-4 Mei
    Spanyol
    100. 5-9 Juni
    Kroasia
    101. 22 Juni
    Bosnia dan Herzegovina
    102. 11-14 September
    Slowakia

    2004

    103. 5-6 Juni
    Swiss
    104. 14-15 Agustus
    Lourdes di Perancis



    Kepemudaan
    Hari Pemuda Dunia adalah kegiatan pemuda Katolik internasional yang populer dan digagas oleh Paus Yohanes Paulus II


    Paus Yohanes Paulus II mempunyai hubungan khusus dengan kepemudaan Katolik dan dikenal juga sebagai Paus untuk Kepemudaan.Sebelum menjadi paus, dia sudah sering melakukan perkemahan dan perjalanan mendaki gunung dengan para pemuda. Dia tetap melakukannya ketika sudah menjadi paus.[78] Dia sangat memperhatikan pendidikan untuk pastor masa mendatang dan banyak melakukan kunjungan awal ke seminari Katolik Roma, termasuk ke Venerable English College pada 1979. Dia menggagas Hari Pemuda Dunia pada 1984 dengan maksud membawa pemuda pemudi Katolik dari seluruh dunia bersama-sama merayakan keyakinannya. Pertemuan seminggu para pemuda ini berlangsung setiap dua atau tiga tahun, menarik minat ratusan ribu kaum muda, yang berkumpul untuk bernyanyi, berpesta dan bertemu untuk memperdalam keyakinan mereka.[19][79] Hari Pemuda Dunia ke 19 yang dirayakan selama kepausannya, mengumpulkan jutaan kaum muda dari seluruh dunia. Pada waktu itu, perhatiannya pada keluarga diungkapkan pada Pertemuan Keluarga Dunia, yang diadakan pada tahun 1994.[19]
    “ Kaum muda terancam... dengan teknik jahat iklan yang membuat mereka menghindari kerja keras dan berharap mendapat kepuasan cepat atas setiap segala sesuatu yang mereka inginkan. ”


    —Paus Yohanes Paulus II

    Hubungan dengan agama lain
    Patung Paus Yohanes Paulus II diluar Katedral Almudena (Madrid, Spanyol)

    Paus Yohanes Paulus II melakukan sangat banyak perjalanan dan bertemu dengan para penganut agama dan kepercayaan lain. Dia selalu mencoba mencari dasar yang sama untuk berkomunikasi, baik doktrin atau dogma. Pada hari Doa Sedunia untuk Perdamaian, yang diadakan pada 27 Oktober 1986 di Assisi, lebih dari 120 wakil agama dan kepercayaan serta berbagai denominasi Kristen meluangkan waktu sehari bersama untuk berpuasa dan berdoa.[80]

    Anglikanisme

    Paus Yohanes Paulus II mempunyai hubungan yang baik dengan Gereja Inggris, berdasarkan pendahulunya Paus Paulus VI, sebagai "yang tercinta Saudari Gereja".[81] Dia berkotbah di Katedral Canterbury ketika berkunjung ke Britania Raya,[67] dan menerima Uskup Agung Canterbury dengan bersahabat dan penuh kesopanan.[67] Namun, Yohanes Paulus II kecewa dengan keputusan Gereja Inggris yang memberikan Sakramen Tahbisan (Holy Orders) kepada perempuan dan melihatnya sebagai sebuah langkah berlawanan dalam kesatuan antara Komuni Anglikan dan Gereja Katolik.[81]

    Pada 1980 Yohanes Paulus II mengeluarkan pengecualian pastoral yang memungkinkan mantan imam Episkopal yang pernah menikah untuk menjadi imam Katolik, dan untuk menerima bekas paroki Gereja Episkopal menjadi Gereja Katolik. Dia juga mengijinkan penciptaan bentuk Anglikan dari Ritus Latin, yang menggabungkan Buku Umum Doa Anglikan. Upaya bersejarah oikumene Yohanes Paulus II dengan Komuni Anglikan diwujudkan dengan berdirinya Gereja Katolik Bunda Penebusan (bentuk Anglikan), bekerjasama dengan Uskup Agung Patrick Flores dari San Antonio, Texas di Amerika Serikat.[82]

    Lutheranisme

    Pada perjalanan kepausannya ke Norwegia, Islandia, Finlandia, Denmark dan Swedia 1-10 Juni 1989[83], Yohanes Paulus II menjadi paus pertama yang berkunjung ke negara-negara dengan mayoritas gereja Lutheran. Selain merayakan Misa dengan umat Katolik, dia berpartisipasi dalam pelayanan oikumene di tempat-tempat yang pernah menjadi tempat suci Katolik sebelum reformasi Lutheran pada abad 16: Katedral Nidaros Norwegia, Thingvellir Islandia, Katedral Turku Finlandia, Katedral Roskilde Denmark dan Katedral Uppsala Swedia.

    Pada 31 Oktober 1999 (ulang tahun ke 482 Hari Reformasi, pengumuman 95 Tesis), perwakilan dari Vatikan dan Federasi Lutheran se-Dunia menandatangani Deklarasi Bersama tentang Doktrin Pembenaran, sebagai tanda persatuan.

    Yudaisme
    Tembok Ratapan di Yerusalem

    Hubungan antara Katolik dan Yudaisme meningkat selama kepausan Yohanes Paulus II.[48][74] Dia sering membicarakan hubungan gereja dengan Yahudi.

    Pada masa kanak-kanak, Karol Wojtyła sering berolah raga dengan banyak tetangga Yahudinya.[23][84] Pada tahun 1979 dia menjadi Paus pertama yang mengunjungi kamp konsentrasi Auschwitz Jerman di Polandia, dimana banyak warga sebangsanya (mayoritas Yahudi Polandia) meninggal selama pendudukan Nazi pada Perang Dunia II. Pada tahun 1998 dia mengeluarkan dokumen "Kami Ingat: Sebuah Refleksi Shoah" yang menggambarkan pemikirannya tentang Holocaust.[85] Dia juga menjadi paus pertama yang diketahui melakukan kunjungan resmi kepausan ke sebuah sinagoga,[86] ketika dia mengunjungi Sinagoga Agung di Roma pada 13 April 1986.

    Pada tahun 1994, Yohanes Paulus II meresmikan hubungan diplomatik resmi antara Tahta Suci dan Negara Israel, mengakui sentralitas kehidupan Yahudi dan keimanannya.[87][90] Untuk menghargai peristiwa ini, Paus Yohanes Paulus II menyelenggarakan ‘Konser Kepausan Memperingati Holocaust’. Konser ini, disusun dan dilaksanakan oleh Maestro Amerika Gilbert Levine, dihadiri oleh Ketua Rabi di Roma, Presiden Italia, dan mereka yang selamat dari Holocaust dari seluruh dunia.[91]

    Pada Maret 2000, Yohanes Paulus II mengunjungi Yad Vashem, tugu peringatan Holocaust di Israel, dan kemudian membuat sejarah dengan menyentuh satu dari tempat tersuci Yudaisme, Tembok Ratapan di Yerusalem,[74] menaruh sebuah pesan di dalamnya (dimana dia berdoa untuk pengampunan atas tindakan yang dilakukan terhadap orang Yahudi). Di bagian tujuan, dia mengatakan: "Saya yakinkan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Gereja Katolik ... sangat sedih oleh kebencian, penganiayaan dan tindakan anti-Semitisme yang diarahkan kepada orang Yahudi oleh orang Kristen di setiap saat dan di setiap waktu", dia menambahkan bahwa "tidak ada kata-kata yang cukup kuat untuk menyayangkan tragedi mengerikan dari Holocaust". Menteri kabinet Israel Rabi Michael Melchior, yang menjadi tuan rumah kunjungan Paus, berkata bahwa dia "sangat terharu" dengan apa yang dilakukan Paus.
    “ Ini diluar sejarah, diluar ingatan. ”


    — Rabi Michael Melchior (26 Maret 2000)
    “ Kami sangat sedih oleh perilaku orang-orang yang dalam perjalanan sejarah telah menyebabkan anak-anak Anda untuk menderita dan meminta pengampunan Anda, kami ingin membaktikan diri pada persaudaraan sejati dengan orang-orang Kovenan. ”


    —Paus Yohanes Paulus II(12 Maret 2000) dari catatan yang ditinggalkan Paus di Tembok Ratapan Yerusalem

    Pada Oktober 2003, Anti-Defamation League (ADL) mengeluarkan pernyataan selamat kepada Yohanes Paulus II memasuki 25 tahun kepausannya.[90] Pada Januari 2005, Yohanes Paulus II menjadi Paus pertama yang diketahui sejarah menerima berkat imam dari seorang rabi, ketika Rabi Benjamin Blech, Barry Dov Schwartz, dan Jack Bemporad berkunjung ke Paus di Clementi Hall di Istana Apostolik.[94]

    Segera setelah meninggalnya paus, ADL mengeluarkan pernyataan bahwa Paus Yohanes Paulus II telah mengubah drastis hubungan antara Katolik dan Yudaisme, mengatakan bahwa "banyak perubahan menuju kebaikan terjadi pada 27 tahun masa kepemimpinanya dibanding 2000 tahun sebelumnya."[95] Dalam pernyataan lainnya yang dikeluarkan di Australia, Dewan Urusan Israel & Yahudi, Direktur Dr Colin Rubenstein berkata, "Paus akan dikenang untuk inspirasi kepemimpinan rohaninya dalam kemerdekaan dan kemanusiaan. Dia mencapai hasil yang lebih jauh dalam hal transformasi hubungan dengan orang-orang Yahudi dan Israel dibanding tokoh lainnya dalam sejarah Gereja Katolik.".[87]
    “ Dengan Yudaisme, karena itu, kami memiliki hubungan yang tidak dimiliki dengan agama lainnya. Anda adalah saudara kami terkasih, dan dengan cara tertentu, dapat dikatakan bahwa Anda adalah saudara tua kita. ”

    — Paus Yohanes Paulus II (13 April 1986)
    Gereja Ortodoks Oriental

    Pada Mei 1999, Yohanes Paulus II mengunjungi Rumania atas undangan dari Patriark Teoctist Arăpaşu dari Gereja Ortodoks Rumania. Ini adalah untuk pertama kalinya seorang Paus mengunjungi sebuah negara yang didominasi Gereja Ortodoks sejak Skisma Timur-Barat tahun 1054.[96] Pada kedatangannya, Patriark dan presiden Rumania, Emil Constantinescu menyambut Paus.[96] Patriark menyatakan, "Milenium kedua dalam sejarah Kristen dimulai dengan luka yang menyakitkan dari persatuan Gereja; akhir dari milenium ini telah terlihat komitmen yang nyata untuk memulihkan persatuan Kristen."[96]

    Yohanes Paulus II mengunjungi negara dengan penganut Ortodoks lainnya yang besar, Ukraina pada 23-27 Juni 2001 atas undangan presiden Ukraina dan uskup Gereja Katolik-Yunani Ukraina. Paus berbincang dengan para pimpinan Dewan Gereja-gereja dan Keagamaan Seluruh Ukraina, memohon untuk "sebuah dialog yang terbuka, toleran dan jujur".[97] Sekitar 200 ribu orang menghadiri perayaan liturgi yang dipimpin Paus di Kiev, dan liturgi di Lviv dihadiri hampir satu setengah juta umat.[97] Yohanes Paulus II menyatakan akhir dari Skisma Besar adalah salah satu harapannya.[97] Menyembuhkan luka perpisahan antara Katolik dan gereja-gereja Ortodoks Oriental meski tradisi Latin dan Romawi Timur jelas tentang kepentingan pribadi yang besar. Selama tradisi Latin dan Byzantium jelas tentang kepentingan pribadi yang besar. Cukup lama, Yohanes Paulus II berusaha memfasilitasi dialog dan usaha melakukan penyatuan setidaknya sejak 1988 pada Eutus in mundum (dunia) bahwa "Eropa memiliki dua paru-paru, bernapas tidaklah mudah sampai keduanya digunakan".

    Selama perjalanan tahun 2001, Yohanes Paulus II menjadi Paus pertama yang mengunjungi Yunani dalam 1291 tahun. Di Athena, Paus bertemu dengan Uskup Agung Christodoulos, pimpinan Gereja Ortodoks Yunani.[98] Setelah pertemuan tertutup 30 menit, keduanya berbicara pada publik. Christodoulos membaca daftar "13 pelanggaran" dari Gereja Katolik Roma terhadap Gereja Ortodoks Oriental sejak Skisma Besar,[98] termasuk perampasan Konstantinopel oleh pejuang perang Salib pada 1204, dan meratapi kurangnya permintaan maaf dari Gereja Katolik Roma, mengatakan "Hingga sekarang, belum pernah terdengar satupun permintaan maaf" untuk ""pejuang gila perang Salib abad ke 13."[98]

    Paus menanggapi dengan berkata "Untuk kesempatan dulu dan sekarang, ketika putra dan putri Gereja Katolik telah berdosa atas tindakan atau kelalaian terhadap saudara-saudara mereka dari kaum Ortodoks, semoga Tuhan memberikan kita pengampunan," yang mana langsung disambut tepuk tangan oleh Christodoulos. Yohanes Paulus II juga mengatakan bahwa penjarahan Konstantinopel adalah sumber "penyesalan yang mendalam" untuk Katolik.[98] Kemudian Yohanes Paulus II dan Christodoulos bertemu di lokasi dimana Santo Paulus dari Tarsus pernah diwartakan kepada orang-orang Kristen Athena. Mereka mengeluarkan ‘deklarasi bersama’, yang mengatakan "Kami akan mengupayakan segala daya, agar akar Kristen di Eropa dan jiwa Kristen dapat dipertahankan. ... Kami mengutuk semua jenis kekerasan, proselitisme, fanatisme, atas nama agama"[98] Kedua pemimpin itu lalu melakukan Doa Bapa Kami bersama, menyingkirkan tabu bahwa Ortodoks tidak boleh berdoa bersama Katolik.[98]

    Paus juga pernah berkata selama masa kepemimpinannya bahwa salah satu mimpi besarnya adalah mengunjungi Rusia, namun hal ini tidak pernah terwujud. Dia mencoba menyelesaikan masalah yang muncul berabad-abad antara Katolik dan Gereja Ortodoks Rusia, seperti mengembalikan ikon Our Lady of Kazan pada bulan Agustus 2004 kepada gereja Ortodoks Rusia.

    Budhisme
    Dalai Lama bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II delapan kali.

    Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14 mengunjungi Paus Yohanes Paulus II delapan kali, lebih banyak dari para petinggi negara atau agama lainnya. Paus dan Dalai Lama sering berbagi pandangan yang sama dan memahami hal-hal buruk yang mirip, keduanya berasal dari masyarakat yang terpengaruh oleh komunisme dan keduanya sama-sama adalah pimpinan agama tertinggi.[100][101]



    Islam
    Paus Yohanes Paulus memegang dan mencium kitab suci Islam; Al-Qur'an.

    Paus Yohanes Paulus II membuat upaya yang cukup untuk meningkatkan hubungan antara Katolik dan Islam.

    Pada 6 Mei 2001, Paus Yohanes Paulus II menjadi paus Katolik pertama yang memasuki dan berdoa di masjid. Dengan penuh hormat menanggalkan sepatunya, dia masuk ke Masjid Agung Umayyah, sebuah bekas gereja Kristen pada masa Kekaisaran Romawi Timur yang didedikasikan untuk Yohanes Pembaptis (yang diyakini dimakamkan disitu) di Damaskus, Suriah, dan memberikan kotbah termasuk pernyataan: "Untuk masa waktu ketika Muslim dan Kristen pernah menyinggung satu sama lain, kita perlu meminta pengampunan dari Yang Maha Kuasa untuk memberikan pengampunan satu sama lain." Dia mencium Al-Qur'an di Suriah, sebuah tindakan yang membuatnya terkenal di kalangan Muslim namun mengganggu banyak umat Katolik.

    Pada tahun 2004, Paus Yohanes Paulus II mengadakan "Konser Rekonsiliasi Kepausan," yang menghadirkan para pemimpin Islam dengan para pemimpin komunitas Yahudi dan Gereja Katolik di Vatikan dengan konser oleh Kraków Philharmonic Choir dari Polandia, London Philharmonic Choir dari Britania Raya, Pittsburgh Symphony Orchestra dari Amerika Serikat, dan Ankara State Polyphonic Choir dari Turki. Acara ini disiapkan dan dipimpin oleh Sir Gilbert Levine, KCSG dan disiarkan ke seluruh dunia.

    Yohanes Paulus II mengawasi penerbitan Katekismus Gereja Katolik yang memuat hal khusus untuk Muslim; di dalamnya, tertulis, "Rencana keselamatan juga mencakup Penciptaan, di tempat pertama diantaranya adalah kaum Muslim; bersama memegang iman Abraham (Nabi Ibrahim dalam Islam), dan bersama-sama memuja satu, Tuhan Maha Penyayang, serta penghakiman manusia pada akhir zaman."


    Peran Dalam Runtuhnya Komunisme


    Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Paus Yohanes Paulus II


    Paus Yohanes Paulus II telah dikatakan berperan pada jatuhnya komunisme di Eropa Timur, dengan menjadi inspirasi spiritual dibalik kejatuhannya, dan menjadi katalisator untuk "revolusi damai" di Polandia. Lech Wałęsa pendiri Solidarność, menghargai Yohanes Paulus II yang telah memberikan keberanian pada Polandia untuk bangkit.[48] Menurut Wałęsa, "Sebelum masa kepausannya, dunia terbagi dalam blok-blok. Tidak ada seorangpun tahu bagaimana keluar dari pengaruh komunisme. Di Warsawa, 1979, dia hanya berkata singkat: "Jangan takut", dan kemudian berdoa: "Biarlah Roh Kudusmu turun dan mengubah wajah bumi... tanah ini".

    Dalam surat-menyurat presiden Ronald Reagan kepada paus mengungkapkan "bertindak cepat secara menerus untuk menopang dukungan Vatikan atas kebijakan AS. Mungkin yang paling mengejutkan, surat-surat menunjukkan bahwa, hingga akhir tahun 1984, Paus tidak yakin bahwa pemerintah Komunis Polandia bisa diubah."[113]

    Pada Desember 1989, Yohanes Paulus II bertemu dengan pimpinan Soviet Mikhail Gorbachev di Vatikan dan keduanya saling mengungkapkan rasa hormat dan kekaguman. Gorbachev pernah mengatakan "Runtuhnya Tirai Besi tidak mungkin terjadi tanpa Yohanes Paulus II".[61][63] Pada saat wafatnya Yohanes Paulus II, Mikhail Gorbachev berkata: "Kesetiaan Paus Yohanes Paulus II pada pengikutnya adalah contoh yang patut kita semua tiru."
    Presiden AS George W. Bush menunjukkan Medali Kebebasan pada Paus Yohanes Paulus II, Juni 2004

    Pada Februari 2004, Paus Yohanes Paulus II dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian untuk menghargai karya kehidupannya melawan penindasan Komunis dan bantuannya mengubah tatanan dunia.[115]

    Presiden George W. Bush memberikan Medali Kebebasan Presidensial, sebuah penghargaan tertinggi Amerika kepada Paus Yohanes Paulus II ketika berlangsung upacara di Istana Apostolik Vatikan 4 Juni 2004. Presiden membacakan kutipan yang terdapat di medali, yang tertuliskan "putra Polandia ini" yang mana "pendiriannya pada perdamaian dan kebebasan telah menginspirasi jutaan orang dan membantu menggulingkan komunisme dan tirani."[116] Setelah menerima penghargaan itu, Yohanes Paulus II berkata, "Semoga keinginan untuk bebas, perdamaian, dunia yang lebih manusiawi yang dilambangkan oleh medali ini menginspirasi keinginan baik setiap pria dan wanita di setiap waktu dan tempat."
    “ Warsawa, Moskow, Budapest, Berlin, Praha, Sofia dan Bukares telah menjadi panggung pada perjalanan ziarah panjang menuju kebebasan. Hal yang mengagumkan bahwa dalam peristiwa ini, seluruh masyarakat bebas mengungkapkan diri - wanita, kaum muda, pria, mengatasi rasa takut, mengatasi rasa haus tak tertahankan untuk mempercepat perkembangan kebebasan, membuat tembok runtuh dan gerbang terbuka. ”


    — Paus Yohanes Paulus II (1989)
    Percobaan-percobaan pembunuhan

    Pada 13 Mei 1981, Yohanes Paulus II hampir tewas ketika ditembak oleh Mehmet Ali Ağca, seorang ekstremis Turki, kala masuk Lapangan Santo Petrus untuk bertemu umat. Ağca akhirnya dihukum penjara seumur hidup.
    Paus ditembak ketika mengendarai sebuah mobil terbuka.

    Mengapa, bagaimana dan atas perintah siapa percobaan pembunuhan ini dilakukan, masih tetap berupa misteri sampai akhir Maret 2005. Dikatakan dokumen-dokumen penting dari negara-negara mantan anggota Uni Soviet menunjukkan bahwa KGB bertanggung jawab. Motif pembunuhan masih diperdebatkan. Salah satu kemungkinan ialah bahwa rezim komunis Uni Soviet takut akan pengaruh Paus Polandia ini akan stabilitas negara-negara satelit Soviet di Eropa Timur, terutama di Polandia sendiri.

    Spekulasi lain menuduh orang-orang dalam Vatikan yang memberi perintah, terutama faksi kaum Freemason yang menentang Karol Wojtyła dan kelompok Opus Dei, yang salah satu pemimpinnya adalah Kardinal Casaroli. Ali Ağca sendiri masih bungkam dalam mengungkapkan kebenaran percobaan pembunuhannya, meski ia sering memberikan petunjuk bahwa ia mendapatkan pertolongan dari orang dalam Vatikan.

    Dan akhirnya ada yang mengatakan bahwa Ağca, seorang penembak ulung, sebenarnya bisa membunuh sang Paus, jika mau dan misinya hanyalah menakut-nakutinya. Namun segala kemungkinan hanya merupakan spekulasi saja karena belum ada bukti-bukti definitif yang muncul.

    Dua hari setelah Natal, pada 27 Desember 1983, Paus menjenguk pembunuhnya di penjara. Keduanya bercakap-cakap dan berbincang-bincang beberapa lama. Setelah pertemuan ini, Paus kemudian berkata: "Apa yang kita bicarakan harus merupakan rahasia antara dia dan saya. Ketika berbicara dengannya saya anggap ia adalah seorang saudara yang sudah saya ampuni dan saya percayai sepenuhnya."

    Naik takhtanya Yohanes Paulus II sebagai Paus sudah diramalkan beberapa dasawarsa sebelumnya oleh Padre Pio. Biarawan yang sama ini, juga meramal bahwa pemerintahan Karol Wojtyła hanya berlangsung singkat dan berakhir dengan darah, sebuah ramalan yang hampir saja terbukti jika pembunuhannya berhasil. Percobaan pembunuhan ini juga diramalkan pada rahasia ketiga Tiga Rahasia Fatima, sebuah analisis dari Vatikan mengungkapkannya.

    Sebuah percobaan pembunuhan lainnya terjadi pada 12 Mei 1982, di Fatima, Portugal ketika seorang pria berusaha menikam Paus dengan sebilah bayonet, tetapi dicegah oleh para penjaga. Si pembunuh, adalah seorang pastor ultrakonservatif, berhaluan keras, seorang warganegara Spanyol, bernama Juan María Fernández y Krohn. Dilaporkan ia menentang reformasi Konsili Vatikan II dan memanggil Paus seorang "agen dari Moskwa." Ia kemudian divonis hukuman penjara enam tahun dan lalu diekstradisi dari Portugal.

    Ada pula sebuah percobaan pembunuhan Paus pada lawatannya di Manila bulan Januari 1995, yang merupakan bagian dari Operasi Bojinka, sebuah serangan terorisme masal yang dikembangkan oleh anggota kaum ekstremis Ramzi Yousef dan Khalid Sheik Mohammed.

    Seorang bom bunuh diri yang menyamar sebagai seorang pastor direncanakan mendekati parade Paus dan meledakkan diri. Namun sebelum tanggal 15 Januari 1995 hari para pria ini akan melaksanakan rencana teror mereka, sebuah kebakaran dalam sebuah apartemen membawa para penyidik yang dipimpin oleh Aida Fariscal ke komputer laptop Yousef yang berisikan rencana-rencana teror mereka.

    Yousef dicekal di Pakistan kurang lebih sebulan kemudian, tetapi Khalid Sheik Mohammed baru dicekal pada 2003.

    Peran dan sikap sosial dan politik

    Yohanes Paulus II dianggap konservatif pada doktrin dan isu-isu yang berhubungan dengan reproduksi dan pentahbisan perempuan.

    Ketika Paus mengunjungi Amerika Serikat dia berkata, "Semua kehidupan manusia, sejak saat pembuahan dan melewati seluruh tahap perkembangannya, adalah suci."[119]

    Seri pengajaran sebanyak 129 buah yang diberikan Yohanes Paulus II pada pengunjung di Roma antara September 1979 dan November 1984 kemudian dijilid dan dipublikasikan dalam sebuah bunderl berjudul ‘Teologi Tubuh’, sebuah meditasi yang diperluas untuk seksualitas manusia. Dia juga memperluasnya dengan mengutuk aborsi, eutanasia dan segala bentuk hukuman mati,[120] menyebutnya semua itu sebagai bagian dari "kultur kematian" yang meresap pada kehidupan dunia modern. Dia mengkampanyekan untuk menghentikan pertumbuhan hutang dunia dan memberikan keadilan sosial.[48][118]

    Dia melakukan kunjungan pertama sebagai Paus ke Irlandia di akhir 1979. Dia berbicara pada sekitar 250.000 umat yang hadir pada Misa di Drogheda. Mengingat Na Trioblóidí (the Troubles), paus berkata:
    “ Dengan berlutut, saya mohon Anda berpaling dari jalan kekerasan dan kembali ke jalan damai ... Mereka yang menggunakan jalan kekerasan selalu mengatakan bahwa perubahan bisa terjadi dengan kekerasan. Anda harus tahu bahwa ada cara politis, cara damai untuk memperoleh keadilan. ”


    —Paus Yohanes Paulus II

    Teologi pembebasan

    Pada tahun 1984 dan 1986, melalui suara Kardinal Ratzinger, pemimpin Kongregasi bagi Doktrin Iman, Yohanes Paulus II secara resmi mengutuk teori teologi Pembebasan, yang mana mempunyai banyak pengikut di Amerika Selatan. Óscar Romero mencoba, ketika berkunjung ke Eropa, untuk mendapatkan kutukan Vatikan untuk rezim El Salvador, dan mencela atas pelanggaran hak asasi manusia dan dukungannya terhadap skuad kematian, namun gagal. Dalam perjalanannya ke Managua, Nikaragua pada 1983, Yohanes Paulus II mengutuk dengan keras apa yang ia sebut "Gereja populer""[122] (seperti komunitas gerejawi dasar atau ecclesial base communities (CEB) yang didukung Consejo Episcopal Latinoamericano atau CELAM atau Konferensi Episkopal Amerika Latin), dan kecenderungan klerus (rohaniwan) Nikaragua yang mendukung sayap kiri Sandinista, mengingatkan para rohaniwan atas tugas mereka untuk taat pada Tahta Suci.[122]

    Yubileum 2000

    Pada tahun 2000, dia secara terbuka mendukung kampanye Yubileum 2000 untuk mengurangi hutang negara-negara Afrika yang diawali oleh bintang rock Irlandia Bob Geldof dan Bono.

    Perang Irak

    Pada tahun 2003, Yohanes Paulus II juga menjadi kritikus terkemuka dari invasi 2003 ke Irak yang dipimpin Amerika Serikat.[48] Pada tahun itu Paus menyatakan ketidak setujuannya terhadap invasi tersebut dengan menyatakan, "Tidak untuk perang! Perang tidak selalu dapat dihindari. Namun perang selalu merupakan kekalahan untuk kemanusiaan."[123] Dia mengirim Apostolik Pro-Nuncio ke Amerika Serikat Kardinal Pio Laghi untuk berbicara dengan presiden Amerika Serikat George W. Bush untuk menyatakan sikap anti perangnya. Yohanes Paulus II mengatakan bahwa itu terserah pada PBB untuk menyelesaikan masalah konflik internasional melalui diplomasi dan agresi sepihak merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan pelanggaran terhadap hukum internasional.
    “ Perang tidak menyelesaikan masalah atas sebab apa mereka berperang, oleh karena itu ... terbukti berakhir sia-sia. ”


    — Paus Yohanes Paulus II
    Evolusi

    Pada 22 Oktober 1996, dalam sesi pleno Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan di Vatikan, Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa teori evolusi Charles Darwin adalah fakta, dan sepenuhnya kompatibel dengan ajaran Gereja Katolik Roma.

    Namun, meski menerima teori evolusi, Yohanes Paulus II memberikan satu perkecualian - jiwa manusia. "Jika tubuh manusia berasal dari sesuatu materi hidup yang pernah ada sebelumnya, jiwa rohani diciptakan langsung oleh Allah".

    Pandangan pada seksualitas

    Ketika mengambil posisi tradisional atas seksualitas, membela Gereja sebagai oposisi moral atas pernikahan sejenis, Paus menegaskan bahwa orang-orang dengan kecenderungan homoseksual memiliki martabat yang melekat dan hak-hak yang sama seperti orang lain. Dalam buku terakhirnya, Memori dan Identitas, ia mengacu pada "tekanan" pada Parlemen Eropa untuk mengijinkan "perkawinan sejenis". Dalam buku, seperti dikutip Reuters, ia menulis: "Adalah sah dan perlu untuk bertanya pada diri sendiri jika ini bukan merupakan bagian dari ideologi baru yang jahat, mungkin lebih berbahaya dan tersembunyi, yang mana mencoba mengadu hak asasi manusia melawan kehidupan keluarga dan manusia."[48]

    Paus juga menegaskan kembali ajaran Gereja mengenai hubungan gender terhadap transseksual, seperti pada Kongregasi bagi Doktrin Iman, yang mana ia awasi, sudah jelas bahwa transseksual tidak bisa melakukan pelayanan gereja.

    Pada sebuah stupada tahun 1997 mengatakan bahwa 3% dari pendapat-pendapat Paus adalah tentang isu moralitas seksual.

    Kesehatan


    Paus Yohanes Paulus II yang sakit di atas Mobil Paus pada 22 September 2004

    Ketika dai menjadi paus pada 1978, Yohanes Paulus II adalah olahragawan sejati. Pada waktu yang sama, meski berusia 58 tahun masih sehat dan aktif, jogging di Taman Vatikan, latihan beban, berenang, dan hiking di pegunungan. Dia juga punya latar belakang bermain sepak bola. Media membandingkan atletisme Paus yang baru dengan sosok Paus Yohanes Paulus I dan Paus Paulus VI yang jelek kondisi kesehatannya, gemuknya Paus Yohanes XXIII dan Paus Pius XII yang sakit-sakitan. Paus modern dengan kesehatan baik hanya Paus Pius XI (1922-1939) yang bekas pendaki gunung.[129][130] Sebuah artikel Irish Independent pada tahun 1980 menjuluki Yohanes Paulus II sebagai Paus yang sehat.

    Yohanes Paulus II sehat sepenuhnya setelah percobaan pembunuhan pertama yang gagal, dan berolahraga dalam kondisi fisik yang mengagumkan sepanjang tahun 1980-an. Pada November 1993, ia terpeleset di atas karpet yang baru dipasang dan jatuh beberapa anak tangga, mematahkan tulang bahu kanannya.[131] Empat bulan kemudian ia terjatuh di kamar mandi, dan tulang pahanya patah, berakibat pada perawatan di Rumah Sakit Gemelli, Roma untuk penggantian pinggul.[132] Dia kemudian jarang terlihat berjalan di depan masyarakat setelahnya, dan mulai mengalami cara berbicara yang cadel dan mengalami kesulitan pendengaran. Kesehatan Paus yang mulai rapuh tersebut diduga karena terkena penyakit Parkinson, meski kemudian baru diungkap pada 2001 oleh ahli bedah ortopedi Italia, Dr. Gianfranco Fineschi.Kuria Romawi baru mengkonfirmasi pada tahun 2003, setelah menyimpan rahasia selama 12 tahun.

    Pada Februari 2005, Paus dibawa lagi ke Rumah Sakit Gemelli karena peradangan dan pembengkakan laring, sebagai akibat terkena flu. Dia dirawat lagi setelah beberapa hari keluar rumah sakit karena kesulitan bernapas. Dilakukan trakeotomi, yang meningkatkan kemampuan bernapas Paus namun membatasi kemampuan berbicaranya, membuatnya terlihat frustrasi. Vatikan memastikan dia menjelang ajal pada Maret 2005, beberapa hari sebelum ia wafat.

    Wafat dan pemakaman

    Pemakaman Paus Yohanes Paulus II menjadi pelayatan terbesar dalam sejarah masa Kristen sejak Perang Salib, menarik kunjungan lebih dari 4 juta pengunjung ke Vatikan ditambah dengan lebih dari 3,7 juta penduduk yang menetap di Roma. Hanya 2 juta orang yang diizinkan untuk melihat jenazah Yohanes Paulus II.

    (ki-ka)Mantan Presiden George W. Bush, First Lady Laura Bush, mantan Presiden Bush dan Clinton, dan mantan Sekretaris Negara Condoleezza Rice, memberi penghormatan disamping jenazah Yohanes Paulus II di Basilika Santo Petrus, 6 April 2005.









    Umat memenuhi misa pemakaman Yohanes Paulus II, 8 April 2005.

    31 Maret 2005 akibat dari infeksi saluran kemih,[138] Yohanes Paulus II mengalami septic shock sebuah gejala penyebaran infeksi dengan demam tinggi dan tekanan darah turun, namun dia tidak dibawa ke rumah sakit. Namun mendapat pengawasan medis dari tim perawat di tempat tinggal pribadinya. Ini menandakan bahwa paus sudah mendekati ajalnya; kemungkinan juga karena keinginannya untuk meninggal di Vatikan. Hari itu juga, sumber Vatikan mengumumkan bahwa Yohanes Paulus II telah mendapat Sakramen pengurapan orang sakit oleh teman dan sekretarisnya Stanisław Dziwisz. Selama hari-hari terakhir kehidupan Paus, cahaya tetap dinyalakan menerangi malam dimana dia tinggal di lantai atas Istana Apostolik. Puluhan ribu umat berkumpul di Lapangan Santo Petrus dan jalan-jalan sekitarnya selama dua hari. Mendengar kabar ini, paus yang sedang sekarang berkata: "Saya telah mencari untuk Anda, dan kini Anda telah datang kepada saya, dan saya berterima kasih."

    Sabtu, 2 April 2005, sekitar jam 15:30 CEST, Yohanes Paulus II mengatakan kata terakhirnya, "pozwólcie mi odejść do domu Ojca", ("biarkan aku pergi ke rumah Bapa"), kepada pendampingnya, dan mengalami koma sekitar empat jam kemudian. Misa persiapan Minggu Kerahiman Ilahi memperingati kanonisasi Maria Faustina Kowalska pada 30 April 2000, baru dilakukan di sisi ranjangnya, dipimpin oleh Stanisław Dziwisz dan bersama dua pendamping Polandia. Juga hadir Kardinal dari Ukraina yang pernah melayani menjadi pastor bersama Paus di Polandia, juga beberapa biarawati Polandia dari Kongregasi Suster-suster Hati Kudus Yesus (Congregation of the Sisters Servants of the Most Sacred Heart of Jesus), yang melayani rumah tangga kepausan. Ia meninggal di apartemen pribadinya jam 21:37 CEST (19:37 UTC) karena kegagalan jantung akibat tekanan darah rendah dan kegagalan peredaran darah, 46 hari sebelum ulang tahunnya yang ke 85. Yohanes Paulus II tidak mempunyai keluarga dekat pada saat meninggal, dan perasaannya sudah terungkap dari kata-katanya, seperti tertulis pada tahun 2000, pada testamen terakhirnya:[144]
    “ Dalam masa akhir kehidupan duniawi saya yang semakin dekat, ingatan saya kembali ke masa lalu, pada orang tua saya, pada saudara laki saya dan saudara perpempuan (yang saya tidak tahu karena meninggal sebelum kelahiran saya), pada Paroki di Wadowice dimana saya dibaptis, pada kota yang saya cintai, pada semua relasi, teman-teman SD sampai SMA dan universitas, sampai waktu saya menjadi pekerja, kemudian di Paroki Niegowic, sampai Santo Florian di Kraków, pada layanan pastoral akademisi, pada lingkungan dari ... untuk semua milieux ... untuk Kraków dan untuk Roma ... kepada orang-orang yang dipercayakan secara khusus oleh Tuhan kepada saya. ”
    Situasi Misa Requiem, 8 April 2005


    Kematian Paus Yohanes Paulus II diiringi ritual berusia berabad-abad lamanya dan tradisi yang berawal sejak masa pertengahan. Upacara Pengunjungan berlangsung dari 4 April hingga pagi hari tanggal 8 April di Basilika Santo Petrus. Testamen Paus Yohanes Paulus II yang dipublikasikan pada 7 April[145] mengungapkan bahwa paus berkeinginan dimakamkan di tanah kelahirannya Polandia namun tergantung dari para Kardinal, yang memutuskan untuk dikebumikan di gua-gua di bawah basilika.

    Pada 8 April, pukul 8.00 pagi UTC, Misa Requiem dipimpin oleh Kardinal Joseph Ratzinger sebagai Dekan Dewan Kardinal dan dihadiri lebih dari 180 orang Kardinal dari berbagai negara. Misa ini menjadi misa yang memecahkan rekor dunia dalam hal jumlah kehadiran umat dan banyaknya kepala negara yang hadir.(lihat: Daftar peserta resmi pemakaman Paus Yohanes Paulus II). Ini adalah berkumpulnya para kepala negara terbesar dalam sejarah, mengalahkan pemakaman Winston Churchill (1965) dan Josip Broz Tito (1980). Empat raja, lima ratu, dan sedikitnya 70 presiden dan perdana menteri, serta lebih dari 14 pimpinan agama dari agama selain Katolik menghadiri pemakaman.

    Peristiwa ini juga mungkin menjadi ziarah Kristen terbesar dalam sejarah, dengan perkiraan empat juta orang berkumpul dalam perkabungan di Roma. Sekitar 250.000 sampai 300.000 orang mengikuti peristiwa ini di Vatikan.[149] Dekan Para Kardinal, Kardinal Joseph Ratzinger, yang kemudian menjadi paus berikutnya, memimpin upacara. Yohanes Paulus II dikebumikan di gua di bawah basilika, makam para Paus. Ia dikebumikan di liang makam yang sebelumnya dipakai jenazah Paus Yohanes XXIII. Liang itu telah dikosongkan ketika jenazah Paus Yohanes XXIII dipindahkan ke ruang lain di basilika setelah dibeatifikasi.
    Search Wikinews Wikinews bahasa Inggris memberitakan: Pope John Paul II dies

    Gelar yang Agung

    Patung Yohanes Paulus II di Częstochowa, selatan Polandia



    Sejak wafatnya Yohanes Paulus II, sejumlah imam di Vatikan dan kaum awam di seluruh dunia telah menyebutnya "Yohanes Paulus yang Agung"; hanya empat paus yang disebut demikian, dan menjadi yang pertama sejak milenium pertama.

    Siswa dari Hukum Kanon mengatakan bahwa tidak ada proses resmi untuk menyatakan seorang Paus mendapatkan gelar "Yang Agung"; gelar ini muncul sendiri melalui penggunaan populer dan terus menerus, seperti juga pada kasus pemimpin sekuler (sebagai contoh, Aleksander III dari Makedonia menjadi populer dan dikenal sebagai Aleksander Agung. Tiga paus saat ini yang diketahui menyandang "Yang Agung" adalah Paus Leo I, yang memimpin dari 440-461 dan membujuk Attila (Attila the Hun) untuk mundur dari Roma; Paus Gregorius I, 590-604, yang mengilhami penamaan kidung Gregorian; dan Paus Nikolas I, 858-867.

    Pengerusnya Paus Benediktus XVI, menyebutnya "Paus Yohanes Paulus II yang agung" pada pidato awalnya dari loggia Gereja Santo Petrus, dan menyebutkan Paus Yohanes Paulus II sebagai "Agung" di homili yang diterbitkan pada Misa pemakamannya (Mass of Repose).

    Sejak memberikan homili pada pemakaman Paus Yohanes Paulus II, Paus Benediktus selalu menyebut Yohanes Paulus II sebagai "yang Agung". Pada Hari Pemuda Dunia ke-20 di Jerman 2005, Paus Benediktus XVI, berbicara dalam bahasa Polski, bahasa ibu Yohanes Paulus II, mengatakan, "Seperti Paus Yohanes Paulus II yang Agung akan berkat: jagalah api keimanan dalam kehidupanmu dan kerabat dekatmu." Pada Mei 2006, Paus Benediktus XVI mengunjungi tanah kelahiran Yohanes Paulus II di Polandia. Selama kunjungannya, ia berulang kali menyebut "Yohanes Paulus yang Agung" dan "pendahulu saya yang agung".

    Sebagai tambahan Vatikan menyebutnya "yang Agung," banyak surat kabar melakukannya juga. Contohnya, koran Italia Corriere della Sera menyebutnya "yang sangat Agung" dan koran Katolik Afrika Selatan, The Southern Cross, menyebutnya "Yohanes Paulus II Yang Agung".

    Beberapa sekolah di Amerika Serikat, seperti Universitas Katolik Yohanes Paulus Agung dan Sekolah Menengah Atas Yohanes Paulus Agung, dinamakan demikian setelah Yohanes Paulus II meggunakan julukan itu.

    Beatifikasi

    Beatifikasi Paus Yohanes Paulus II                                 Monumen untuk Paus Yoahanes Paulus II di Poznań
                               


    Terinspirasi dari seruan "Santo Subito!" ("jadikan Santo Segera!") dari kerumunan umat pada saat pemakamannya, Paus Benediktus XVI memulai proses beatifikasi kepada pendahulunya, melewati batasan normal bahwa lima tahun harus berlalu setelah wafatnya seseorang sebelum proses beatifiksi bisa dimulai. Pada audiensi dengan Paus Benediktus XVI, Camillo Ruini, Vikaris Jenderal Keuskupan Roma dan orang yang bertanggung jawab untuk mempromosikan alasan kanonisasi seseorang yang meninggal dalam keuskupan, mengutip "keadaan luar biasa" yang menyebabkan masa menunggu bisa diabaikan. Keputusan ini diumumkan pada 13 Mei 2005, pada Perayaan Our Lady of Fátima dan peringatan 24 tahun percobaan pembunuhan Yohanes Paulus II di lapangan Santo Petrus.

    Pada awal 2006, dilaporkan bahwa Vatikan sedang menyelidiki kemungkinan mukjizat terkait dengan Yohanes Paulus II. Suster Marie Simon-Pierre, seorang biarawati Perancis dan anggota Konggregasi Little Sisters of Catholic Maternity Wards, yang hanya bisa tergolek di tempat tidurnya karena penyakit Parkinson,[160][168] dilaporkan mendapatkan pengalaman "kesembuhan total setelah anggota komunitasnya berdoa untuk perantaraan dengan Paus Yohanes Paulus II". Pada Mei 2008, Sister Marie-Simon-Pierre, then 46, Kemudian berkarya lagi di rumah sakit ibu dan anak yang dioperasikan oleh ordo-nya. "Saya sakit dan sekarang saya telah disembuhkan," dia mengatakan pada wartawan Gerry Shaw. "Saya sembuh, namun ini terserah gereja apakah ini adalah mukjizat atau bukan."

    Pada 28 Mei 2006, Paus Benediktus XVI berkata pada Misa yang dihadiri sekitar 900.000 orang di tanah kelahiran Yohanes Paulus II di Polandia. Dalam homilinya, dia meminta doa untuk mengawali kanonisasi Yohanes Paulus II dan berharap kanonisasi dapat terjadi "dalam waktu dekat."

    Pada Januari 2007, Kardinal Stanisław Dziwisz dari Kraków, yang pernah menjadi sekretarisnya, mengumumkan bahwa tahap wawancara untuk proses beatifikasi, di Italia dan Polandia, mendekati selesai. Pada Februari 2007, peninggalan Paus Yohanes Paulus II berupa potongan jubah putih yang sering ia gunakan mulai didistribusikan bersama kartu doa untuk suatu alasan, sebuah kebiasaan khas setelah meninggalnya seorang Katolik yang saleh.

    Pada 8 Maret 2007, Vikaris Roma mengumumkan bahwa tahap diosis Yohanes Paulus II untuk beatifikasi telah selesai. Diikuti dengan upacara pada 2 April 2007 — upacara kedua setelah meninggalnya Paus — kemudian proses berlanjut untuk pengawasan komite awam, para imam, dan anggota keuskupan Vatikan Congregation for the Causes of Saints, yang akan melanjutkan penyelidikan dari mereka.

    Pada peringatan tahun keempat wafatnya Paus Yohanes Paulus II, 2 April 2009, Kardinal Dziwisz, memberitahu wartawan tentang mukjizat yang baru saja muncul di makamnya di Basilika Santo Petrus. Seorang anak laki Polandia berusia sembilan tahun dari Gdańsk, yang menderita kanker ginjal dan tidak bisa berjalan, mengunjungi makam bersama orang tuanya. Ketika meninggalkan Basilika Santo Petrus, anak itu mengatakan, "Saya ingin berjalan," dan mulai bisa berjalan normal.

    Pada 16 November 2009, sebuah panel peninjau dari Congregation for the Causes of Saints mengambil suara secara tertutup bahwa Paus Yohanes Paulus II pernah hidup dalam kebajikan. Pada 19 Desember 2009, Paus Benediktus XVI menanda tangani satu dari dua dekrit (keputusan) yang diperlukan untuk beatifikasi dan menyebut Yohanes Paulus II "Yang Mulia", untuk menandakan bahwa ia hidup dalam kegagahan dan kebajikan. Pengambilan suara kedua dan dekrit kedua ditanda tangani untuk menandai kebenaran dari mukjizatnya yang pertama (suster Marie Simon-Pierre, biarawati Perancis yang sembuh dari penyakit Parkinson). Begitu dekrit kedua ditanda tangani, positio (laporan alasan, dengan dokumentasi kehidupannya dan tulisan-tulisannya ditambah informasi tentang alasannya) telah dianggap lengkap.[185] Dia dapat di beatifikasi.[184][185] Beberapa spekulasi mengatakan bahwa dia kemungkinan akan di beatifikasi ketika (atau segera setelah) bulan peringatan 32 tahun terpilihnya sebagai Paus pada 1978, yaitu pada Oktober 2010. Mgr. Oder mencatat, ini bisa terjadi jika dekirt kedua ditanda tangani tepat waktu oleh Paus Benediktus XVI, jika mukjizat paska wafatnya Yohanes Paulus II dapat dicatatkan untuk menyelesaikan positio tersebut.

    Vatikan mengumumkan pada 14 Januari 2011 bahwa Paus Benediktus XVI telah mengkonfirmasi mukjizat yang terkait suster Marie Simon-Pierre dan Yohanes Paulus II dapat di beatifikasi pada 1 Mei, Minggu Rahmat Ilahi dalam oktaf Paskah dan awal bulan Rosario. 1 Mei juga dirayakan di bekas negara-negara komunis seperti Polandia. dan beberapa negara Eropa Barat sebagai May Day (Hari Buruh), dan Paus Yohanes Paulus II sangat dikenal dalam banyak hal, termasuk dalam kontribusinya dalam runtuhnya Komunisme Eropa Timur dengan damai, yang juga terbukti kebenarannya oleh bekas presiden Soviet Gorbachev pada saat wafatnya Yohanes Paulus II.[16]

    Pada 29 April 2011, peti Paus Yohanes Paulus II digali mengawali beatifikasinya, sementara puluhan ribu umat mulai berdatangan ke Roma untuk peristiwa besar sejak pemakamannya pada tahun 2005. Peti tertutup berisi jenazah Yohanes Paulus II dipindahkan dari gua di bawah Basilika Santo Petrus ke monumen batu marmer di Kapel Santo Sebastian, Pier Paolo Christofari, dimana Yang Diberkati (Beato) Paus Innosensius XI dimakamkan. Lokasi yang lebih baik ini, dekat Kapel Pieta, Kapel Sakramen Mahakudus dan patung dari Paus Pius XI dan Paus Pius XII, akan memungkinkan lebih banyak peziarah melihat makamnya.

    Polandia mengeluarkan koin emas 1.000 Złoty (mata uang Polandia) dengan wajah Paus Yohanes Paulus II untuk memperingati beatifikasinya.
    “ Akan menjadi kegembiraan luar biasa bagi kami ketika resmi dibeatifikasi, namun sejauh pengamatan kami dia sudah menjadi Santo. ”


    —Kardinal Stanisław Dziwisz, Uskup Agung Kraków

    Pada hari yang sama "Non abbiate paura" ("Tanpa takut"), lagu resmi yang didedikasikan untuk Yohanes Paulus II yang menampilkan foto dan kata-kata asli dari Yohanes Paulus II diedarkan. Lagu, yang diciptakan oleh Giorgio Mantovan dan Francesco Fiumanò, dinyanyikan oleh penyanyi Italia Matteo Setti dan satu-satunya karya musik dimana Vatikan memberikan izin penggunaan suara rekaman Karol Wojtyła.

    Kritik

    Yohanes Paulus II mendapat kritik atas dukungannya pada prelatur Opus Dei dan kanonisasi pendirinya pada tahun 2002, Josemaría Escrivá, yang mana dia sebut "santo dari kehidupan biasa" Beberapa gerakan dan organisasi keagamaan lain dari Gereja jelas berada dalam pengaruhnya (Legiun Kristus, Jalan Neokatekumen, Gerakan Schoenstatt, Gerakan Karismatik), dan dia dituduh beberapa kali mengabaikan beberapa hal, terutama kasus Rev.Marcial Maciel, pendiri Legiun Kristus.

    Yohanes Paulus II mempertahankan pengajaran moral Gereja Katolik terkait peran gender, seksualitas, eutanasia, program Keluarga Berencana dan aborsi ditentang banyak pihak. Kaum feminisme Kristen, juga ahli teologi Katolik seperti John Wijngaards mengkritik posisi moralnya terhadap peran perempuan, termasuk menolak tentang pendeta wanita.

    Banyak aktivis gay dan lainnya mengkritiknya ketika mempertahankan oposisi Gereja terhadap homoseksualitas dan pernikahan sejenis, namun juga nyata bahwa Yohanes Paulus II mengutuk diskriminasi terhadap kelompok ini. Tahun 2007, majalah TIME melaporkan bahwa salah satu penyebab meninggalnya Yohanes Paulus II kemungkinan adalah pertentangan keyakinannya mengenai penggunaan peralatan medis untuk memperpanjang usia.

    Selain semua kritik dari mereka yang menuntut modernisasi, kaum Katolik Tradsional kadang-kadang juga mengecamnya, menuntut kembali ke Misa Tridentina[194] dan menolak reformasi yang dilembagakan setelah Konsili Vatikan II, seperti penggunaan bahasa daerah atau bahasa nasional dari sebelumnya bahasa Latin dalam Misa Ritus Romawi, ekumenisme dan prinsip kebebasan beragama. Dia juga dituduh oleh para kritikus karena mengijinkan penunjukan uskup liberal dalam tahtanya dan dengan diam-diam mempromosikan modernisme, yang sebelumnya jelas dikutuk sebagai "sintesis dari semua ajaran sesat" oleh pendahulunya Paus Pius X.

    Yohanes Paulus yang mempertahankan moral Gereja Katolik dalam menolak penggunaan pengaturan kelahiran yang tidak alami (KB) sangat dikritik oleh para dokter dan aktvis AIDS, yang mengatakan penolakan itu akan mengarah pada kematian yang tak terhitung dan jutaan yatim piatu karena AIDS.Para pengkritik juga mengklaim bahwa keluarga besar adalah karena kurangnya kontrasepsi memperparah kemiskinan dan timbulnya masalah di Dunia Ketiga seperti anak jalanan di Afrika Selatan.[118] Catholic Agency for Overseas Development (CAFOD) mempublikasikan tulisan ilmiah yang menyebutkan, "Setiap strategi yang memungkinkan orang untuk berpindah dari risiko tinggi ke yang lebih rendah dalam satu kesatuan, (kita) yakini, adalah risiko sebenarnya dalam "strategi pegurangan".

    Permintaan maaf

    Yohanes Paulus II meminta maaf pada orang Yahudi, Galileo, wanita, korban Inkuisisi, Muslim yang terbunuh pada Perang Salib, dan hampir pada semua orang yang menderita karena perbuatan Gereja Katolik pada masa lalu. Jauh sebelum ia menjadi Paus, ia adalah editor yang menonjol dan pendukung inisiatif seperti Surat Rekonsiliasi Uskup Polandia kepada Uskup Jerman tahun 1965. Sebagai Paus, ia membuat pernyataan maaf yang dipublikasikan untuk lebih dari 100 kesalahan, termasuk:

    Prosedur hukum pada ilmuwan dan filsuf Italia Galileo Galilei, yang juga seorang Katolik yang taat pada sekitar tahun 1633 (31 Oktober 1992).
    Keterlibatan Katolik dalam perdagangan budak Afrika (9 Agustus 1993).
    Peran Hirarki Gereja pada penghukuman mati dengan dibakar dan perang agama yang mengikuti Reformasi Protestan (Mei 1995, di Republik Ceko).
    Ketidak adilan terhadap perempuan, pelanggaran hak asasi perempuan dan perendahan martabat perempuan dalam sejarah (10 Juli 1995, pada sebuah surat pada "semua perempuan")
    Ketidak aktifan dan pembiaran oleh banyak umat Katolik selama Holocaust (lihat artikel Agama di Nazi Jerman) (16 Maret 1998).

    “ Permintaan maaf itu lebih sulit dibanding berbohong, untuk sebuah maaf kebohongan telah dipenjarakan. ”


    —Paus Yohanes Paulus II
    Penghargaan dan penamaan

    Paus Benediktus XVI diperlihatkan sebuah peta Peninsula Yohanes Paulus II di Antarktika.

    Beberapa proyek nasional dan kota diberi namanya sebagai penghargaan: Stasiun Roma Termini, didedikasikan untuk Paus Yohanes Paulus II atas permintaan Dewan Kota, bangunan pertama di Roma yang diberi nama diluar orang Italia. Bandar udara internasional yang dinamakannya adalah Bandar Udara Internasional Yohanes Paulus II Kraków (Kraków Airport im. Jana Pawła II) - satu bandara utama di Polandia - dan Bandar Udara Yohanes Paulus II (Aeroporto João Paulo II) di Azores, Portugal. Jembatan Yohanes Paulus II (Juan Pablo II Puente) di Chili, juga Lapangan Yohanes Paulus II di Bulgaria memperingati kunjungan Paus ke Sofia tahun 2002. Di Tegucigalpa, ibukota Honduras ada jalan raya (boulevard) dinamakan "Yohanes Paulus II" (Juan Pablo II) yang dinamakan demikian setelah kunjungan Paus ke Tegucigalpa.

    Stadion Yohanes Paulus II (Estádio João Paulo II) adalah sebuah stadion sepak bola di Moji-Mirim, Brasil. Parvis Notre-Dame - Place Jean-Paul II adalah sebuah pusat lingkungan di Paris. Minggu 10 Desember 2006, kota Ploërmel, Morbihan, barat Perancis, meresmikan patung Yohanes Paulus II setinggi 875 m (2,870.73 kaki), yang merupakan hadiah dari pematung Russo-Georgian Zurab Tsereteli. Taman Reservasi Paus Yohanes Paulus II (Pope John Paul II Park Reservation) di Boston, Massachusetts juga (jalan) Pope John Paul II Drive berada di Chicago, Illinois.

    Di Filipina, Paroki Yesus, the Way the Truth and the Life mear SM Mall of Asia di Pasay City juga disebut Pusat Pemuda Internasional Yohanes Paulus II (John Paul II International Youth Centre). Ketika Sekretaris Vatikan untuk Hubungan antar Negara, Uskup Agung Jean Louis Tauran pergi ke negara ini, ia disambut kaum muda dari seluruh keuskupan sufragan dari Keuskupan Agung Manila disitu. Di Sekolah Tinggi Katolik Pasig, satu dari gerbang untuk SMA dinamakan "Gerbang Paus Yohanes Paulus II". Gerbang ini mengarah langsung ke wisma uskup dan Katedral Immaculate Conception. Di Bacolod City, sebuah menara didedikasikan untuk dia di daerah reklamasi dekat SM City Bacolod dan diberi nama Menara Paus Yohanes Paulus II. Menara ini adalah struktur bangunan di kota itu.

    Dari kepentingan internasional Peninsula Yohanes Paulus II di Pulau Livingston, Kepulauan Shetland Selatan dinamakan demikian sebagai penghargaan kepada Paus. Penanda Antarktika tersebut sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap perdamaian dunia dan saling pengertian antar sesama manusia di dunia.


    “ Kemerdekaan tidak hanya terdiri dari mengerjakan apa yang kita suka, tetapi juga dalam mendapatkan hak yang seharusnya bisa kita lakukan. ”


    — Paus Yohanes Paulus II


    Source,http://id.wikipedia.org/wiki/Paus_Yohanes_Paulus_II
     

    About Author

    Title 2

    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. Laboratorium Blog tes - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by Blogger